Breaking News

News Update

Hiburan

Showing posts with label Bola. Show all posts
Showing posts with label Bola. Show all posts

Saturday, July 14, 2012

11 Legenda Terbesar Dalam Sejarah Piala Dunia


AnakNgalo-- Selalu ada pemain-pemain hebat yang bermain di Piala Dunia, namun tidak semua pemain hebat tersebut dapat menjadi legenda. Sepuluh pemain di bawah ini merupakan beberapa di antara pemain-pemain hebat yang akan terus dikenang sepanjang masa.

Prestasi mereka dan sumbangsih mereka bagi negara di gelaran Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi, dan karena dua hal tersebutlah mereka layak mendapat gelar legenda terbesar Piala Dunia. Siapa saja mereka?


11. Bobby Charlton (Inggris)

Bobby Charlton adalah ksatria sejati Inggris. Mungkin jika Charlton tidak pernah ada, Inggris juga tidak akan pernah menjuarai satu pun turnamen internasional. Ya, gelar Piala Dunia 1966 yang diraih Inggris memang tidak lepas dari peran penting Bobby Charlton di lini depan.

Dengan tinggi hanya 173 cm, Charlton sangat mengandalkan kecepatannya untuk memimpin penyerangan Inggris di Piala Dunia 1966. Tidak hanya mampu mendistribusikan bola dengan luar biasa, Bobby Charlton juga memiliki insting mencetak gol yang luar biasa. Rekor 49 gol dalam 105 penampilannya bagi Inggris masih menjadi rekor gol terbanyak dalam sejarah Inggris, yang bahkan tidak mampu disamai oleh Gary Lineker sekali pun.

Charlton berpartisipasi di empat Piala Dunia. Walaupun tidak diturunkan sama sekali di Piala Dunia 1958, Bobby Charlton menjadi tumpuan timnas Inggris di tiga Piala Dunia selanjutnya. Puncaknya tentu saja ketika Charlton membawa Inggris menjadi juara Piala Dunia pada tahun 1966.

Saat itu Charlton berumur 28 tahun, umur emas bagi seorang pesepakbola. Di final melawan Jerman, Charlton harus bertarung melawan Beckenbauer muda, yang akhirnya harus mengakui kehebatan Sir Bobby. ”Inggris mampu mengalahkan kami di 1966 karena Charlton hanya sedikit lebih baik daripada saya pada saat itu,” puji Sang Kaisar.


10. Eusebio (Portugal)

Jauh sebelum era Luis Figo apalagi Cristiano Ronaldo, Portugal memiliki seorang legenda bernama Eusebio. Kelebihan pemain yang berjuluk ‘Black Panther’ ini adalah akselerasi dan dribelnya yang seperti kucing, ditambah lagi dengan kemampuannya dalam menembak bola ke gawang.

Terlahir di Mozambik, Eusebio dapat disebut sebagai pemain terhebat yang pernah dimiliki Portugal sampai saat ini berkat penampilan gemilangnya di Piala Dunia 1966. Eusebio membawa Portugal meraih posisi ketiga di akhir turnamen sekaligus mencatatkan namanya sebagai pencetak gol turnamen sehingga berhak membawa pulang sepatu emas. Berkat sembilan gol yang dicetaknya sepanjang Piala Dunia 1966 itu pula membuatnya mendapatkan gelar pemain terbaik turnamen.

Momen terbaiknya tentu saja terjadi di pertandingan melawan Korea Utara di babak perempat-final. Tertinggal tiga gol terlebih dahulu, Portugal akhirnya bangkit lewat empat gol yang dicetak Eusebio hingga akhirnya mampu menang 5-3 di akhir pertandingan. “Piala Dunia 1966 merupakan titik tertinggi dalam kareir saya. Kami mungkin kalah di semi-final, namun sepakbola Portugal adalah pemenang besar,” ujar sang legenda.


9. Lothar Matthaeus (Jerman)

Matthaeus adalah pemegang rekor penampilan terbanyak di Piala Dunia, 25 pertandingan dalam lima Piala Dunia berturut-turut. Selain itu, dia adalah satu-satunya pemain selain kiper Meksiko Antonio Carbajal yang mampu bermain di lima Piala Dunia sepanjang kariernya.

Walaupun perannya tidak terlalu terasa di Piala Dunia 1982, Matthaus menjadi pemain penting bagi Jerman di Piala Dunia 1986. Beckenbauer yang saat itu menjadi pelatih mempercayakan satu posisi di lini tengah Jerman diisi oleh Matthaeus, yang saat itu bahu membahu bersama Felix Magath di posisi tersebut. Jerman berhasil dibawanya melaju ke final sebelum akhirnya dihancurkan Argentina 3-2. Mengecewakan memang, tetapi itulah awal kesuksesan besar Matthaeus.

Menjadi kapten sejak tahun 1987, Matthaeus sukses membawa Jerman menjadi juara di Piala Dunia 1990. Sukses Jerman ini tak lepas dari peran sentral Matthaeus di lini tengah, dan hasilnya Matthaeus diganjar berbagai penghargaan individual seperti Pemain Terbaik Jerman 1990, Pemain Terbaik Eropa 1990, dan Pemain Terbaik Dunia 1990. Satu tahun kemudian, dia menjadi pemain pertama yang meraih FIFA World Player.


8. Ronaldo (Brasil)

Inilah striker terbaik yang dimiliki Brasil dalam dua dekade terakhir. Ronaldo Luis Nazario de Lima atau yang biasa disebut Ronaldo adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak di Piala Dunia hingga saat ini. Pertama kali muncul di Piala Dunia 1994 sebagai seorang anak muda berumur 17 tahun, Ronaldo mencapai puncak kejayaannya di Piala Dunia pada tahun 2002 ketika Brasil sukses menjadi juara dunia untuk kali kelima. Ronaldo menjadi bintang turnamen, mencatatkan delapan gol untuk mendapatkan sepatu emas yang merupakan simbol pencetak gol terbanyak.

Ronaldo mencatatkan namanya dalam sejarah Piala Dunia ketika mencetak satu gol di pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2006 Brasil melawan Ghana. Gol tersebut merupakan gol ke-15 Ronaldo di Piala Dunia, memecahkan rekor 14 gol Gerd Mueller yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade. Selain itu dirinya tercatat sebagai pemain ke-20 yang mampu mencetak gol di tiga kesempatan Piala Dunia, dan pemain kedua setelah Juergen Klinsmann yang mampu mencetak minimal tiga gol dalam masing-masing Piala Dunia di tiga kesempatan. Tak salah jika orang menjulukinya sebagai sang Fenomena.


7. Ferenc Puskas (Hongaria)

Ferenc Puskas adalah pemain terbaik yang pernah dimiliki Hongaria, sang penguasa sepakbola dunia pada awal 1950-an. Tim yang saat itu berjuluk ‘Magical Magyars’ ini adalah salah satu tim terbaik yang pernah ada di dunia, namun sayangnya tak pernah menjuarai Piala Dunia. Satu-satunya Piala Dunia yang diikuti Puskas bersama Hongaria adalah Piala Dunia 1954 di Swiss. Pada saat itu, Hongaria adalah salah satu tim favorit juara.

Kekuatan utama Hungaria pada saat itu adalah lini depannya yang menakutkan terutama sang bintang Ferenc Puskas. Walaupun tubuhnya pendek kekar dan kurang kuat di udara, catatan golnya bersama tim nasional benar-benar luar biasa, 84 penampilan dengan 83 gol.

Pada Piala Dunia 1954 itu, Hongaria berhasil mencapai final dan menantang Jerman yang pada penyisihan dikalahkan 8-3. Hampir semua orang yakin Hongaria akan menang mudah pada partai final ini, namun pada kenyataannya mereka harus menerima kekalahan 2-3 walaupun telah unggul dua gol terlebih dahulu di awal pertandingan. Puskas yang pada pertandingan itu belum 100 persen fit karena cedera berhasil mencetak satu gol. Walaupun harus menelan kegagalan besar itu, Hongaria harus bangga karena Puskas diakui sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah Piala Dunia.


6. Michel Platini (Prancis)

Tahukah Anda, Prancis gagal tampil di dua Piala Dunia berturut-turut, yaitu 1970 dan 1974? Ya, tim ‘ayam jago’ ini memang selalu gagal lolos ke babak final Piala Dunia sejak 1966, hingga akhirnya seorang Michel Platini yang mengenakan nomor punggung 10 dan berperan sebagai playmaker di timnas Perancis membawa negaranya kembali lolos ke Piala Dunia pada tahun 1978.

Platini pula yang membawa Prancis meraih prestasi cukup membanggakan di dua Piala Dunia selanjutnya, yaitu Piala Dunia 1982 dan Piala Dunia 1986. Dengan kemampuannya membaca permainan, teknik tingkat tinggi, dan ketajamannya di depan gawang lawan, Platini membawa Perancis meraih posisi keempat Piala Dunia 1982 dan peringkat ketiga Piala Dunia 1986.

Sejak kehadiran Platini pula Prancis diperhitungkan sebagai salah satu tim berbahaya di daratan Eropa, apalagi setelah keberhasilannya membawa Prancis menjadi juara Eropa pada tahun 1984. Walaupun Platini tidak berhasil mengangkat gelar Piala Dunia sepanjang kariernya, namun Platini tetap dianggap sebagai salah satu pemain legendaris Piala Dunia.


5. Johan Cruyff (Belanda)

Jika ada pertanyaan siapakah legenda terbesar Belanda di Piala Dunia, jawaban yang paling tepat tentu bukan Marco van Basten atau Ruud Gullit, tetapi Johan Cruyff. Cruyff memang tidak pernah membawa Belanda menjuarai satu turnamen pun sepanjang kariernya.

Kesuksesan terbesarnya hanya membawa timnya menjadi runner-up Piala Dunia 1974, satu-satunya Piala Dunia sepanjang kariernya. Namun kehadirannya di turnamen tersebut dan kesuksesannya memimpin Belanda ke tempat tertinggi dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia dengan permainan tim total football yang sangat terkenal itu membuat sosok Cruyff rasanya layak disandingkan dengan legenda-legenda seperti Pele, Diego Maradona, dan Franz Beckenbauer.

Visinya yang luar biasa dan kreativitasnya sebagai playmaker tim Oranje membawa Cruyff menjadi salah satu pemain terbesar Piala Dunia. Total Football, permainan menyerang yang sangat indah yang diusung Belanda di 1974 itu memang yang membantunya melegenda hingga saat ini. Dia adalah legenda terbesar Belanda sampai saat ini, dan total football yang dipimpinnya tak akan pernah terlupakan.


4. Zinedine Zidane (Prancis)

Terlahir dari pasangan imigran Aljazair di Marseille, Prancis, Zinedine Zidane tumbuh menjadi pesepak bola terbaik sejak era Michel Platini sekaligus idola baru Prancis di abad 21. Terkenal sebagai gelandang flamboyan, Zidane menikmati kesuksesan di liga Prancis, Italia dan Spanyol. Tapi prestasinya yang paling diingat adalah ketika membela Prancis di Piala Dunia 1998 dan Jerman 2006. Dalam dua turnamen ini, karier Zidane mencapai titik tertingginya. Di Piala Dunia 2002 dia absen lantaran cedera dan Prancis tersingkir di fase grup.

“Secara teknis, saya pikir dia adalah raja dari dua hal yang penting dalam sepakbola – kontrol bola dan operan. Belum ada yang menyamainya dalam dua hal itu,” kata Platini mengomentari penampilan Zidane selama kariernya.

Penampilan Piala Dunia pertama Zidane tahun 1998 di mana Prancis menjadi tuan rumahnya awalnya kurang berjalan mulus. Zidane diusir wasit saat pertandingan melawan Arab Saudi yang akhirnya dimenangi Prancis. Hal ini membuatnya tidak bisa ikut bertanding melawan Paraguay.

Namun, suami dari Aime Jacquet ini mulai menunjukkan permainan terbaiknya saat Perancis mengalahkan Italia lewat adu penalti. Dia juga berjasa ketika tim ayam jantan menang melawan Kroasia 2-1 di semi-final dan akhirnya merebut Piala Dunia 1998 setelah mengalahkan Brasil 3-0. Zidane tampil luar biasa saat final melawan Brasil. Dia meliuk membawa bola kearah kotak penalti untuk kemudian menyarangkan dua gol di babak pertama.

Di final Piala Dunia 2006, menjelang akhir perpanjangan waktu, terjadilah insiden yang akan terus dikenang dunia. Tiba-tiba Zidane, yang terkenal santun di lapangan, menanduk dada bek Italia Marco Materazzi meski saat itu tak ada perebutan bola. Pemain Italia ini pun langsung menggeletak. Tanpa ampun, wasit mengeluarkan kartu merah untuk Zidane. Prancis pun akhirnya kalah adu penalti dari Italia yang menjadi juara.

Beberapa pekan setelah kejadian aneh itu, barulah terungkap penyebab tandukan itu. Itu pun disampaikan oleh kalangan yang ahli membaca gerak bibir karena Zidane tetap tak mau menyebutkan, provokasi apa yang dikatakan oleh Materazzi. Rupanya Zidane tersinggung atas provokasi Materazzi yang mengucapkan, bahwa adik perempuan Zidane adalah anak pelacur dan Zidane merupakan keturunan teroris.


3. Franz Beckenbauer (Jerman)

Dalam sejarah, hanya ada dua orang yang berhasil meraih gelar Piala Dunia sebagai pemain maupun pelatih, yaitu Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer. Beckenbauer yang dijuluki Der Kaizer atau sang Kaisar lebih melegenda karena dia dianggap sebagai pemain belakang terbaik dalam sejarah dan perannya ketika menjadi pemain begitu sentral. Beckenbauer sukses memimpin Jerman Barat menjadi juara Piala Dunia 1974 hanya tiga tahun setelah dipilih sebagai kapten tim. Di Piala Dunia terakhirnya ini pula Beckenbauer tercatat sebagai kapten pertama yang mengangkat Piala Dunia dengan desain yang terbaru, menggantikan piala Jules Rimet yang dimiliki secara permanen oleh Brazil di 1970.

Pada Piala Dunia 1990 di Italia, Beckenbauer kembali mengangkat Piala Dunia, kali ini sebagai pelatih timnas Jerman. Sebelumnya di Piala Dunia 1986, Beckenbauer juga sukses membawa Jerman ke final hingga akhirnya dikalahkan oleh Argentina dengan sang ikonnya, Diego Maradona. Rasanya prestasi sang legenda akan sulit diulang oleh orang Jerman manapun, entah sampai kapan.


2. Diego Maradona (Argentina)

Rasanya tak ada satu pun pemain sepakbola selain Maradona yang dipuja layaknya Tuhan. Bagi sebagian besar orang, Maradona merupakan pemain terhebat sepanjang masa dan bukannya Pele, yang mendapatkan gelar tersebut secara resmi oleh FIFA. Walaupun hidupnya dipenuhi kontroversi; mulai dari gol Tangan Tuhan, kecanduan alkohol, dan penggunaan obat-obatan terlarang hingga akhirnya harus diusir dari Piala Dunia 1994, Maradona selalu dipuja oleh penggemarnya.

Meksiko 1986 merupakan Piala Dunia terbaiknya dengan beberapa momen yang tak mungkin terlupakan. Momen terbaiknya tentu saja ketika Maradona berlari dari tengah lapangan melewati lima pemain Inggris sebelum akhirnya mencetak sebuah gol yang kelak disebut sebagai gol terbaik sepanjang masa. Gol yang dicetak ketika melawan Inggris di perempat-final Piala Dunia 1986 tersebut begitu indah, dan momen itu adalah yang terbaik dalam kariernya yang membuatnya dianggap Tuhan oleh sebagian orang Argentina yang mendirikan Gereja Maradona. Semua orang akan selalu mengingat kata-kata yang diucapkan sambil menangis oleh komentator Victor Hugo Morales ketika terjadi gol terindah sepanjang masa itu, “Gracias, Dios. Por el futbol, por Maradona, por estas lagrimas.. (Terima kasih Tuhan, untuk sepakbola, untuk Maradona, dan untuk airmata ini..)”


1. Pele (Brasil)

Pele pertama kali muncul di Piala Dunia pada tahun 1958 sebagai pemain muda berumur 17 tahun. Dia mencetak gol pertamanya di Piala Dunia ketika bermain melawan Wales di perempat-final, pertandingan keduanya di Piala Dunia. Dengan usianya yang 17 tahun 239 hari, Pele dinobatkan sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah Piala Dunia. Kehebatan Pele semakin terlihat ketika mencetak hat-trick di pertandingan semi-final melawan Perancis. Sampai sekarang, Piala Dunia 1958 di Swedia dikenang sebagai awal mendunianya sang legenda.

Tak berlebihan rasanya jika FIFA sampai menjulukinya sebagai King of Football. Pernah mencetak delapan gol dalam satu pertandingan pada tahun 1964, Pele juga mencatatkan diri sebagai pemain yang pernah enam kali mencetak lima gol dalam satu pertandingan, 30 kali quattrick, dan tak kurang dari 92 kali hat-trick. Sepanjang karirnya, Pele membukukan 1.281 gol dalam 1363 pertandingan. Dengan statistik yang mengagumkan seperti itu, apalagi yang kurang dari seorang Pele? (maungbiru.com)

Read more ...

Thursday, July 12, 2012

Galeri Foto Riau Main Stadium





Read more ...

Histeria Suporter "Ledakkan" Riau Main Stadium


AnakNgalo-- Stadion Utama Riau ‘’meledak’’ oleh histeria suporter yang menyaksikan pertandingan Tim Nasional (Timnas) Indonesia melawan Jepang di Kualifikasi Piala Asia U-22 Grup E, Kamis (12/7) malam.

Sayangnya, dukungan itu tidak mampu mendongkrak performa Garuda Muda sehingga harus mengubur mimpi tampil di putaran final tahun depan, setelah kalah 1-5.

Menurut klaim panitia, tidak kurang 42 ribu penontong menyaksikan di tribun laga krusial bagi Andik Vermansyah dkk. Padahal kapasitas stadion kebanggaan masyarakat Riau itu 43.500 kursi.

Semua kursi terisi, termasuk kursi yang dari awal tidak dijual pun penuh, tepatnya di belakang tugu maskot PON. Di kursi penonton, baik kelas III sampai ke VVIP pun penuh sesak, bahkan banyak berdiri. Selain itu, masih ada ribuan yang tidak memiliki tiket menunggu hasil di luar.

‘’Luar biasa. Hari ini luar biasa, ternyata animo masyarakat Riau cukup tinggi untuk menyaksikan langsung pertandingan Indonesaia melawan Jepang. Meski akhirnya kalah, tapi kali ini sungguh luar biasa,’’ sebut Wakil Ketua Panitia, Zulfahmi Adrian.

Suporter mampu menjadikan Stadion Utama Riau memerah karena hampir semua penonton mengenakan baju warna merah, warna kostum kebesaran Timnas. Hebohnya lagi, atraksi kompak memberikan dukungan, mulai dari yel-yel hingga atraksi gelombang (mexican wave) mengelilingi tribun stadion.

Namun, masih ada banyak penonton yang masuk tanpa tiket. Kondisi ini sempat membuat kesal panitia, hingga akhirnya memberikan pengamanan ekstra di setiap pintu masuk. Memang pada akhirnya tak juga bisa terkendali.

‘’Banyak yang masuk, tapi tidak pakai tiket. Petugas pun memasukkan teman-temannya ke dalam. Ditegur dan dicegah tidak bisa,’’ sebut salah seorang panitia kepada Riau Pos.

Ketika kondisi penuh, penonton yang tidak berhasil memiliki tiket memanfaatkannya untuk berfoto-foto di dalam stadion. ‘’Ya, terpaksalah foto-foto saja, mau nonton masuk ke dalam penuh sesak,’’ sebut Desi, salah seorang penonton yang ditemui Riau Pos.

Diperkirakan ada tiga ribuan penonton di luar stadion yang tak bisa masuk. Meski begitu, penonton yang sudah terlanjur sampai di stadion tak lantas pulang. Mereka tetap menunggu untuk bisa masuk.

‘’Kami datang dari Kampar bang, kami beli tiket, tapi tiket habis sejak siang. Kami tidak akan pulang sebelum tahu hasil akhirnya, stadion ini hebat,’’ ungkap salah seorang penonton, Bahri, yang rela menunggu di luar dekat pintu masuk media.

Dari keramaian penonton itu, di kursi VVIP terlihat Menpora Andi Mallarangeng, Gubernur Riau HM Rusli Zainal, Kapolda Riau Brigjend Pol Suedi Husein dan Ketua Umum PSSI Pusat Djohar Arifin Husein memberikan dukungan untuk Timnas.

Empat Supoter Terjatuh
Di tengah keramaian penonton malam tadi, empat suporter jatuh dari tribun penonton ke basement. Setelah sempat dirawat di ruangan medis diketahui mereka bernama Nanda (21), Eka (16), Novri (22) dan Ridho (20).

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Riau Pos, keempat suporter tersebut berada di atas ujung tribun dan terjatuh karena berdesakan.

Nanda yang mengalami robek di bagian dagu dan patah kaki. Sementara Ridho yang sempat pingsan saat terjatuh dilarikan ke Eka Hospital dan masih dirawat hingga malam tadi. Kondisinya dilaporkan mengalami penurunan kesadaran akibat jatuh dari ketinggian lima meter.

Sementara itu dua korban lainnya, Eka dan Novri menjalani perawatan di RS Awal Bros Pekanbaru. Eka mengalami robek di bagian dagu, sementara Novri mengalami beberapa patah tulang. Keempat korban ini terjatuh di tempat yang sama.

Panitia pelaksana, yang diwakili Hadiyandra dari PSSI Pusat menyebutkan, empat korban itu satu di antaranya perempuan. Sebelumnya mendapat penanganan intensif di Eka Hospital dan Awal Bros.

‘’Kita menyayangkan terjadinya insiden ini, tapi semua menjadi tanggung jawab kita. Dengan catatan mereka yang memiliki tiket kita asuransikan,’’ tegas Hadiyandra saat dihubungi Riau Pos malam tadi.

Tidak hanya itu, berdasarkan pantauan Riau Pos, seorang orang penonton laki-laki mengalami pingsan di kursi penonton. Beruntung cepat diamankan oleh panitia dan diberikan perawatan kesehatan di stadion.

‘’Langsung kami bawa ambulans dan telah mendapat perawatan,’’ kata Gusmar, salah seorang panitia di lapangan. Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Drs R Adang Ginanjar saat dikonfirmasi Riau Pos membenarkan kejadian tersebut.

‘’Sementara informasinya empat orang dirawat di rumah sakit,’’ ujarnya.

Perwakilan Tim Medis Panitia AFC, Dr Taufik kepada Riau Pos di Eka Hospital mengatakan, peristiwa ini terjadi bersamaan saat dilaksanakan seremoni pembuka pertandingan dan kedua tim akan memasuki lapangan sekitar pukul 19.30 WIB.

‘’Ada yang memberitahu bahwa ada yang jatuh. Langsung saya dipanggil ke belakang. Kita susuri dengan tim keamanan yang ada. Ketemulah posisi jatuhnya di Tribun Barat,’’ jelas Adang Ginanjar.

Saat itu yang pertama diketahui jatuh adalah seorang perempuan, Nanda (21). Setelah dilakukan pemeriksaan di tempat, ia diketahui menderita luka lecet di bagian kepala dan paha kanan diduga patah. Tiga menit berselang, usai ia menangani Nanda yang menghabiskan waktu sekitar 15 menit, ada lagi dua orang yang jatuh, yakni Ridho dan Novri.

‘’Dua orang ini ditangani oleh dr Fakhruddin Alpan. Ridho saat itu pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans, sedangkan Novri hanya menderita luka lecet dan kita duga patah pada panggul. Untuk Ridho, ia mengalami cedera kepala sedang. Dia masih dirawat,’’ papar dr Taufik.

Menurut informasi, sesaat setelah kedua orang ini jatuh, penonton keempat turut jatuh di lokasi yang berdekatan. Penonton keempat ini adalah Eka (16). ‘’Luka Eka tidak parah, ia hanya shock dan sudah pulang,’’ lanjutnya.

Wakil Ketua III Panitia AFC Mursid WK kepada Riau Pos membantah penyebab terjadinya insiden kemarin karena over capacity. ‘’Tidak melebihi kapasitas. Kondisi masih batas toleransi. Memang beberapa titik kita tutup,’’ katanya.

Dijelaskan Mursid, pihaknya sejak jauh hari sudah mengimbau agar penonton datang lebih awal. ‘’Ini agar tidak terjadi saling berdesakan,’’ ujarnya.

Setelah kejadian ini, Mursid menegaskan, pihaknya akan segera melakukan evaluasi. ‘’Kita akan perketat di tempat pintu masuk penonton. Kami juga mengimbau mereka agar masuk lebih cepat. Keamanan juga akan kita evaluasi,’’ jelasnya.

Peluang Habis
Kekalahan malam tadi, memupuskan peluang tim Garuda Muda Indonesia untuk meraih tiket putaran final AFC U-22 2013. Indonesia berada di posisi empat pada klasemen sementara Grup E dengan nilai 6.

Sementara bagi Jepang, tambahan tiga poin dari kemenangan malam tadi mengantarkannya ke putaran final. Jepang mengumpulkan nilai 12 dari empat pertandingan, disusul Australia di posisi kedua dengan nilai 10.

Posisi Jepang hanya mungkin digeser oleh Australia yang akan saling bertemu di pertandingan terakhir. Kalah pun, Jepang tetap lolos dengan predikat runner up.

Posisi Indonesia mungkin tak tertolong lagi. Sisa satu pertandingan melawan Singapura, Ahad (15/7) lusa, sudah tidak mempengaruhi posisi Garuda Muda.

Syarat minimum untuk lolos sebagai posisi ketiga terbaik grup pun juga tak tergapai, karena kalau pun menang melawan Singapura di pertandingan ke-5 tersebut, perolehan Indonesia menempati peringkat ketiga dengan poin 9.

Namun, itu tetap tak mampu meloloskan Indonesia karena peringkat ketiga terbaik saat ini untuk sementara ada di tangan Oman (Grup A) dengan perolehan 10 poin dan surplus gol 5.

Pada pertandingan di Stadion Utama Riau malam tadi, Jepang memang perkasa. Empat dari lima gol yang bersarang ke gawang M Ridwan diborong Kubo. Satu gol tambahan dicetak Suzuki Ryuga di masa injury time. Gol balasan Indonesia hanya mampu dicetak melalui titik putih, dari pemain bertahan, Syaiful Indra Cahya.

Asisten Pelatih Indonesia, Liestiadi mengakui timnya kalah segalanya dari lawan. Mulai dari organisasi pemain di setiap lini hingga semangat permainan selama 90 menit pertandingan. Ia mengharapkan seluruh pihak dapat belajar banyak dari kekalahan tersebut.

‘’Memang setiap lini kita kalah. Permainan tim juga demikian. Kalah segalanya. Seharusnya dengan potensi besar Indonesia, kita bisa lebih baik lagi beberapa tahun ke depan, dengan menyatukan pengelolaan tidak hanya pemain, tapi juga pelatih dan seluruhnya,’’ ujarnya usai laga.

Liestiadi menambahkan, kekurangan Indonesia ada pada waktu persiapan yang sangat singkat. ‘’Kita baru masuk training center (TC) bulan April, sementara mereka sudah dari tiga tahun lalu mempersiapkan tim. Makanya selama pertandingan anak-anak selalu kalah di setiap lini. Inilah yang harus kita benahi dalam pesepakbolaan Indonesia,’’ lanjutnya.

Pelatih Kepala Jepang, Yoshida tetap merendah. Ia tetap mengakui ketangguhan Indonesia sebagai tuan rumah. Tapi timnya memang bisa bermain maksimal. ‘’Ini penampilan maksimal anak-anak, dan beruntung bisa menang lima gol,’’ ungkapnya.

Kubo, sang pencetak empat gol ke gawang Indonesia, menyadari tekanan dari suporter membuat timnya sedikit susah berkembang. Namun dengan semangat mampu keluar dari tekanan. ‘’Kami menyadari ini adalah partai tandang, tapi dengan memaksimalkan semuanya makanya dapat menang,’’ ujarnya singkat.

Indonesia memang bermain sedikit terburu-buru. Pasokan bola Garuda Muda di awal babak pertama sering terhenti akibat salah pengertian. Hal ini membuat anak-anak Jepang jadi lebih leluasa menekan pertahanan Dany Saputra dkk.

Jepang berhasil membuahkan tendangan pojok dari serangan pertamanya, namun masih gagal dimaksimalkan.

Permainan keras yang ditampilkan Jepang di sepuluh menit babak pertama membuat Andik Vermansyah kerap diganjal dan nyaris tak diberi ruang untuk menciptakan peluang. Hingga 15 menit pertandingan berjalan, Indonesia belum memberikan serangan membahayakan ke mulut gawang Nakamura.

Jepang yang menguasai pertandingan karena lebih unggul di lini tengah kembali mendapatkan peluang cantik di menit ke-16. Peluang itu tercipta saat penyerangnya, Kubo melepaskan tembakan dari sudut sempit. Namun masih melenceng tipis di sisi kiri gawang M Ridwan.

Tak mau kalah, Garuda Muda membalas melalui sepakan keras Hendra Adi Bayaw dua menit berselang. Namun bola yang mengarah ke sudut kiri gawang masih dapat ditepis Nakamura.

Malang bagi Indonesia, Andik Vermansyah yang beberapa kali dihentikan dengan tekel keras mengalami cedera di menit ke-20. Tak dapat melanjutkan pertandingan, ia harus digantikan Bima Ragil. Setelahnya, beberapa kali Kubo dan Hirota mengancam gawang Indonesia. Namun masih melenceng ke sisi gawang Timnas.

Jepang akhirnya berhasil menjebol gawang Indonesia. Kubo memanfaatkan tendangan bebas, setelah salah seorang rekannya dijatuhkan di luar kotak penalti.

Tendangan keras Kubo pada menit ke-31 mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan Jepang. Kebobolan satu gol, tampaknya meruntuhkan mental Garuda Muda.

Terbukti berselang dua menit saja, Kubo mencetak gol kedua bagi timnya. Gol tercipta berawal dari kemelut di depan gawang yang gagal ditutup lini belakang Indonesia. Dengan leluasa Kubo melepaskan tendangan keras dan mengubah kedudukan menjadi 2-0.

Tertinggal dua gol, Timnas berusaha bangkit. Indonesia bukan tanpa peluang, melalui koordinasi apik dari Agung dan Bima Ragil, pemain bernomor punggung 44 tersebut sempat berhadapan dengan Nakamura di bawah gawang.

Namun tendangannya masih lemah dan dapat diamankan kiper Jepang.

Memasuki babak kedua, Indonesia sedikit lebih berhati-hati. Permainan keras kedua tim tetap berlangsung. Gencarnya serangan Indonesia membuat Adi Bayaw berkali-kali harus dijatuhkan.

Semangat Timnas semakin menggebu setelah menit ke-56, umpan crossing yang dilancarkan pemain sayap Indonesia ditahan oleh tangan salah seorang bek Jepang. Hadiah penalti yang dieksekusi Syaiful berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2.

Menyadari semangat Indonesia meningkat, Yoshida memasukkan Hashimoto dan menarik keluar Hirota. Selang dua menit saja, Kubo mencetak hattrick pada menit 64 dengan tendangan melengkungnya yang menembus sudut kanan gawang M Ridwan. 3-1 Jepang memimpin.

Jepang semakin trengginas di sisa pertandingan. Mereka berhasil mencatatkan dua gol lagi, masing-masing pada menit ke-89 dari kaki Kubo dan kemudian dari kaki pemain pengganti, Suzuki Ryuga pada menit ke-92. Gol tercipta melalui serangan balik dan kerja sama apik di depan bersama Kubo.

Asisten Pelatih Indonesia Widodo C Putro mencoba meningkatkan serangan dengan menurunkan Yoshua Pahabol dan menarik keluar Adi Bayaw pada menit ke-75.

Namun perjuangan Garuda Muda hingga pertandingan berakhir belum dapat menghasilkan gol. Skor 5-1 yang diraih Jepang ini sekaligus mengantarkan Negeri Matahari Terbit tersebut ke putaran final. (Riaupos)
Read more ...

Mandat Mendominasi ASEAN!


AnakNgalo-- Kita baru saja menyaksikan perjuangan pemain-pemain muda U22 kita melawan Jepang dengan hasil sangat menyakitkan. Adalah lima kali anak-anak muda Jepang menggoyang jala gawang timnas Indonesia dengan hanya satu kali timnas kita menjebol gawang Jepang.

Selama ini, tiada hentinya kita masyarakat Indonesia menanti-nantikan momen untuk berjaya di tingkat Asia. Suatu harapan yang sangat tinggi tanpa dilandasi realitas. Kita kurang memahami betapa level kita masih belum mampu untuk disandingkan di tingkat Asia. Baik dari segi manajemen, pembinaan, teknis, support dll, kondisi sepakbola kita masih jauh dari kondisi setara tim papan atas Asia. Sayangnya kondisi itu lebih diperburuk dengan adanya gelombang tsunami pertikaian kubu yang menyapuh bersih landasan sepakbola nasional kita.

Kita masih ingat betapa kekuatan kita memang masih sulit untuk menembus level ASIA. Sebagai rujukan dalam babak penyisihan piala dunia lalu, sekalipun kita bisa lolos ke babak ke III namun pada level itu timnas kita menghadapi tim-tim kuat dari ASIA. Adapun hasilnya tidak ada satu poin pun yang dapat kita koleksi. Dan semakin nyata lewat hasil pertandingan melawan Jepang dan Australia di kualifikasi piala ASIA di Pakanbaru dengan resultat kekalahan dua kali.

Melihat kondisi ini, sudah sepantasnya kita realistis dan memulai harapan kita dari level ASEAN dalam masa dua tahun ini. Didepan kita ada dua momen untuk membuktikan diri bahwa timnas kita layak mendominasi kancah sepakbola negara ASEAN. Momen yang paling dekat adalah AFF Cup yang akan dilaksanakan mulai November mendatang di Malaysia dan Thailand, kemudian ada SEA Games tahun 2013. Ujian kekuatan timnas kita akan ternilai dari kedua turnamen ini.

Seiring dengan persiapan menuju kedua even itu, semoga atmosfer sepakbola kita semakin membaik melalui kerja Komite Bersama yang sedang merumuskan solusi dari permasalahan pengelolaan sepakbola nasional. Adalah sebuah kebenaran bahwa manajemen organisasi yang bagus akan menghasilkan tim sepakbola yang baik pula. Semoga dalam lima bulan kedepan solusi dari masalah yang ada sudah mendapatkan format kerjasama yang tepat demi kemajuan sepakbola nasional.

Jalan menuju prestasi tingkat ASIA harus dimulai dari dominasi di kancah ASEAN. Pada tahun 90-an, Thailand merupakan negara yang mendominasi sepakbola Asean dan juga mampu mengimbangi tim-tim di tingkat ASIA. Sedangkan di masa sekarang muncul kekuatan baru seperti Myanmar, Singapura, dan Filipina yang juga patut di perhitungkan disamping Thailand, Malaysia, Vietnam yang sudah lama berada di papan atas kancah sepakbola ASEAN. Oleh sebab itu kita harus menyusun format pembinaan, kompetisi, sistem, dll yang mampu mensupport kebutuhan timnas.

Momentum kemajuan timnas itu sudah terlihat melalui bibit-bibit pemain dalam timnas U22 yang berlaga di Pakanbaru sekarang ini. Jika pemain yang sedang berlaga di kualifikasi AFF ini terus di bina dan dibuatkan program latihan yang baik dan moderen, maka saya percaya dalam satu tahun kedepan kita akan menghasilkan timnas yang tangguh dan berprestasi.

Dari pengamatan saya sejak tahun 90-an saat timnas Primavera kita menjadi tim impian masa depan saat itu, pada timnas U22 inilah saya melihat kemiripan dalam bermain sepakbola. Pada masa-masa tim primavera yang diperkuat oleh pemain seperti: Kurniawan D.Y, Aples T, Yeyen T, Bima Sakti, Kurnia S dll, kita menyaksikan permainan sepakbola modern. Bahkan pelatih tim Korsel saat itu sempat mengagumi permainan timnas primavera. Sayangnya tim ini tenggelam sejak kegagalan mereka menembus penyisihan Pra Olimpiade 1996 melawan Korea Selatan.

Seperti halnya kegagalan tim Primavera, timnas U22 ini juga dikandaskan oleh raksasa Asia lainnya yakni Jepang dalam perebutan tempat menuju piala Asia. Memang masih ada timnas Senior jaman Widodo C putro, Fachri Husaini dll yang menampilkan permainan yang baik, namun masih jauh dari pola permainan modern.

Harapan kita menuju dominasi ASEAN sudah ada di timnas U22 ini. Dan untuk menunjukkan bahwa kita mampu mendominasi ASEAN, maka hadangan pertama akan kita hadapi hari Minggu nanti melawan Singapura. Dari segi kualitas, timnas U22 ini masih sangat potensial untuk berkembang. Para pemain masih rata-rata berusia dibawah 21 tahun dengan tehnik individu yang sudah terlihat bagus. Apabila kita bisa mengalahkan Singapura, maka semangat dan motivasi pemain akan terdorong untuk terus mengasah kemampuan mereka. Berlatih, bertanding, belajar, bersemangat, dll adalah faktor penting kesuksesan timnas ini.

Jadi intinya adalah mengalahkan Singapura merupakan kunci utama untuk memperoleh dorongan masuk kedalam dominasi ASEAN. Para pemain harus tampil spartan, termotivasi dan menunjukkan bahwa mereka mampu. Sesungguhnya mereka telah menampilkan permainan yang atraktif dan menarik walaupun masih memiliki banyak kelemahan individual. Namun semua itu bisa diatasi apabila tim pelatih dan para pemain saling menaruh kepercayaan dan respek serta meletakkan target nasional diatas segalanya.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah peranan direktur tehnik dalam menentukan dan meletakkan keseragaman dasar dan pola permainan tim nasional. Harus ada kordinasi yang baik dari dirtek dengan pelatih tim senior dan pelatih tim yunior. Jangan sampai pemain muda dibina dengan pola yang berbeda dengan yang diterapkan pelatih tim senior.

Sekalipun kita sedang mengalami kegagalan menembus zona Asia, namun kita pantang mundur untuk membangun diri dan berjuang untuk maju. Kita adalah bangsa yang terbentuk dari sebuah perjuangan. Nyali kita dipenuhi dengan semangat patriotis, dan tujuan kita adalah mendominasi dengan sportivitas tinggi.

“Terimalah Mandat untuk Mendominasi ASEAN”

Ayoo…satu kali lagi timnas U22, tunjukkan bahwa Indonesia lebih baik dari Singapura. (bato kapua, kompasiana)

Read more ...

Ayo Dukung Garuda


AnakNgalo- Euforia dan dukungan suporter Indonesia terhadap timnas sepakbolanya terus mengalami lonjakan. Di luar masih adanya beberapa kasus kekerasan, bahkan yang memakan korban jiwa, semakin banyak penonton yang mau berbondong-berbondong datang ke stadion untuk menyaksikan Skuad Garuda bertanding, terutama saat menjadi tuan rumah.

Dualisme kepengurusan PSSI dan liga yang tak juga sembuh setelah ketua PSSI sebelumnya, Nurdin Halid, turun pun tidak mempengaruhi euforia itu. Suporter seakan tak peduli. Bahkan banyak suporter yang menegaskan bahwa mereka mendukung timnasnya, bukan PSSI-nya. Agak bias, tetapi itulah yang terjadi.

Bukan hal aneh ketika timnas bertanding, GBK begitu merah. Kalau kita menyaksikan langsung, kita akan merasakan tribun yang seperti akan roboh setiap timnas kita mencetak gol. Begitu pun yang terjadi dalam beberapa hari ini di Stadion Utama Riau. Tiket selalu sold out. Stadion utama Riau adalah satu dari dua stadion yang digunakan Indonesia sebagai tuan rumah untuk menyelenggarakan kualifikasi Piala Asia U-22, selain stadion Kaharudin Nasution, yang juga di Riau.

Memang, setidaknya sejak menjadi salah satu tuan rumah babak grup Piala AFF 2010, kerinduan suporter pada permainan menarik yang disuguhkan timnas dan prestasi yang membanggakan terus tumbuh. Kala itu, kita mengenal Zulkifli Syukur dan M. Nasuha sebagai bek sayap yang begitu prima, Firman Utina yang menunjukkan bahwa Indonesia punya playmaker berkelas, Okto Maniani yang punya kecepatan luar biasa di sayap, serta duo naturalisasi di lini depan yang sangat berbahaya: Irfan Bachdim dan Christian Gonzales. Sayang, akhirnya Indonesia harus puas keluar sebagai runner-up setelah secara aggregate kalah 2-4 dari Malaysia.

Tahun lalu, Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah. Kala itu, ajangnya adalah SEA Games. Sesuai aturan, tim yang dikirim adalah U-23. Kemudian kita dibuat tercengang dengan aksi duo muda Papua: Patrich Wanggai dan Titus Bonai. Penampilan menawan sejak pertandingan pertama lagi-lagi berakhir dengan hasil tak memuaskan di partai final. Lagi-lagi Indonesia kalah dari Malaysia.

Hari ini, kita menyaksikan bahwa bakat-bakat sepakbola Indonesia terus lahir. Memilih Riau sebagai venue untuk menjamu tamu-tamu di grup E kualifikasi Piala Asia U-22, kita berharap banyak pada kualitas individu Andik Vermansyah. Namun, ketika Andik begitu individualis dan hanya mampu membuat kita berdecak kagum dengan skill-nya tanpa mampu memberikan kontribusi berarti, kita mengenal satu bakat lagi dari timur negeri ini, Nyong Ambon Hendra Adi Bayauw. Kualitas individunya juga luar biasa. Beroperasi di lini kedua, Bayauw juga punya kemampuan mencetak gol yang sangat baik. Di pertandingan terakhir melawan Macau, ia mencetak dua gol.

Skuad Garuda Muda seakan kembali meminta kita menjaga harapan. Menempati urutan ketiga klasemen grup E dengan sisa dua pertandingan, peluang Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia U-22 masih sangat terbuka. Malam ini Indonesia menantang Jepang, dan pada akhir pekan nanti akan melakoni laga terakhir melawan Singapura.

Mengakhiri tiga pertandingan dengan dua kemenangan tentu hasil yang sangat positif. Saya mengapresiasi itu. Bahkan, saat kalah dari Australia di pertandingan pertama, Indonesia tampil begitu dominan, terus menekan tim yang diperkuat beberapa pemain Liga Inggris itu.

Putaran final Piala Asia akan diikuti oleh 16 tim. Juara dan runner-up ketujuh grup serta peringkat tiga terbaik akan lolos ke putaran final bersama tuan rumah. Dengan kualitas lini depan yang sangat potensial, saya sudah mempersiapkan teriakan-teriakan bangga saat menyaksikan mereka dalam dua pertandingan mereka beberapa hari ini. Mengejutkan Jepang nanti malam, dan memaksa Singapura pulang akhir pekan nanti. Semoga.

Read more ...
Designed By