Breaking News

News Update

Hiburan

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Motivasi: Pernahkah Anda Berada Di Titik Nol

Beberapa kali saya harus mengusap air mata yang mengalir di pipi. Dari balik kamera handycam ini saya terus me-record kesaksian sahabatku di sebuah persekutuan doa di sebuah kantor di Karawaci ini. Kisah yang sama, hal-hal yang sama yang telah saya dengarkan sebenarnya sejak dua-tiga tahun terakhir ini saya mulai bersahabat dengannya.

Kisah tentang bagaimana sahabat saya itu benar-benar mengalami kondisi jatuh “terjerembab ke tanah saat sedang terbang tinggi dari langit.” Bagaimana saat di puncak karirnya yang telah meng-arsiteki berbagai pembangunan gedung perkantoran, mall dan banyak proyek lainnya, dan sedang liburan keluarga di San Fransisco, namun tiba-tiba saja harus mengalami stroke.

Stroke yang melumpuhkan hampir seluruh persendian tubuhnya. Stroke yang membuat sebagian otaknya terendam darah. Stroke yang membuat dirinya tak bisa menelan air putih sekalipun. Bicara pun tak bisa lagi.. betul-betul seperti bayi yang sama sekali tak bisa melakukan apa-apa. Vonis dokter saat itu adalah ia tak mungkin bisa sembuh/pulih kembali.


Memang ada karakter tentang sahabat saya itu yaitu keras kepala.. atau nekat kali ya..sehingga ia tak pernah peduli bagaimana kondisinya yang betul-betul membuat drop hingga ke titik nol, ia tetap nekat ingin sembuh.. ingin pulih, dan nekatnya lagi ia tetap ingin bisa bekerja kembali, itu targetnya.
Sungguh sebuah keinginan yang gila, menurut saya jika dalam kondisi seterpuruk itu memiliki keinginan yang berbanding terbalik, 180 derajat berbeda dengan realitanya.

Saya pernah bertanya, “Kok bisa nekat memiliki keinginan untuk bekerja kembali, padahal kondisi saat itu secara logika sangat tidak memungkinkan?”

Sahabatku itu menjawab, “Kalau aku tidak bekerja, bagaimana harus menafkahi anak-anakku kelak, sementara aku seorang single mother…”

Dan itulah tekad terkuatnya, yaitu cintanya kepada anak-anak dan keluarganya yang mau tidak mau membuatnya harus terus berkarya. Terus memberikan kontribusi kepada orang di sekitarnya dan banyak orang yang membutuhkan keahliannya di bidang arsitektur.

Mimpinya tak pernah salah…. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar bagaimana menelan makanan, dimulai dari bagaimana menelan es krim yang meski masih selalu belepotan sampai akhirnya mulai kembali belajar mengucapkan kata-kata.. dari mulai kata-kata pendek seperti bat, cat, dst. Lalu siapa sangka, dari tidak bisa membaca kembali, kini ia telah menerbitkan dua buah buku! Gila.., dia menjadi penulis buku..!

Mimpi itu tak ada yang salah.. semenjak ia mulai kembali belajar bagaimana bicara dan belajar membaca, jalannya terbuka untuk bekerja kembali pada perusahaan sebelumnya tempat ia bekerja. Meski kini pekerjaannya hanya di belakang meja, berbeda dengan pekerjaan sebelumnya yang membuat ia harus ada di lapangan, di lokasi proyek, namun itu menjadi titik balik dirinya mencapai banyak hal yang sebelumnya tak mungkin.

Menulis… meski ia menulis dengan mengandalkan satu tangan, yaitu tangan kirinya saja karena bagian kanan dari tubuhnya lumpuh. Dan menulis awalnya hanya sebagai terapi penyembuhan saja untuknya. Dengan menulis ia mulai berani menuangkan berbagai ekspresinya, pengalamannya, pengalaman apapun, sesepele apapun itu, dan juga berbagai pemikirannya di bidang yang ia kuasai yaitu arsitektur dan planologi perkotaan.

Hingga berbagai hoby-nya pun ia kisahkan dalam blog-nya. Dan suatu saat tulisannya tentang hobynya di bidang philateli - perangko, membuat ia akhirnya memamerkan koleksi-koleksinya di Museum Pos TMII dan berbagai tempat lainnya. Dan siapa nyana ternyata koleksi-koleksi surat dan perangkonya tersebut bernilai puluhan bahkan ratusan juta rupiah sehelainya. Wajar saja karena koleksi tersebut berasal dari berbagai negara dan tokoh-tokoh international yang pernah membalas kiriman surat-suratnya sewaktu ia kecil.

Kini berbagai penghargaan baik itu dalam bidang penulisan, hoby filateli, maupun sebagai sosok inspiratif yang memberikan motivasi-motivasi hidup, dari berbagai pihak telah diraihnya. Aktif dalam kegiatan dan gagasan akan penggunaan internet sehat dan pendukung komunitas para penyandang cacat Indonesia, dan sokongannya yang besar untuk yayasan stroke, yang ia berikan dari sebagian hasil penjualan buku-bukunya.

“Biaya untuk pengobatan para penderita stroke itu sangat mahal sekali, bagaimana dengan mereka yang terbatas dananya untuk pulih… Karena itulah aku menyisihkan sebagian hasil penjualan bukuku untuk Yayasan Stroke Indonesia,” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan awal pertama saya bertemu dengannya dua tahun yang lalu saat ia hanya mengandalkan kursi roda untuk berjalan, dan ia pun masih belum percaya diri untuk bisa tampil kembali di depan publik. Bicara pun sulit, untuk menyampaikan dan berbagi apa yang ada dalam kepalanya. Tapi kini, dengan lancarnya ia menghipnotis ratusan audiens yang hadir… Heran saya, belajar public speaking di mana ia bisa begitu lancar berbicara dan membuat para pendengar terpana, sesekali beberapa orang malah mengusap basah pipi mereka.

Ia pernah terbang tinggi ke angkasa.. mengalami turbulensi.. lantas jatuh terjerembab ke titik nol… Karena stroke yang melumpuhkan seluruh tubuhnya, sama sekali tidak bisa berbicara dan menulis. Namun keberanian dan ‘kenekatannya’ dalam menghadapi badai kehidupan bukan menjadikannya tak berdaya. Justru di titik nol itu ia bisa me-reformulasi ulang kehidupannya kembali.
Nol  hanyalah awalannya.. namun perbedaannya adalah pada “lompatan” selanjutnya.. itu yang menentukan…

Read more ...

Friday, April 12, 2013

Pak Beye Akhirnya Ngetweet

Horreeewwww.. Akun Twitter SBY akhirnya diluncurkan juga, Meskipun beliau belum ngetweet apa-apa juga..

Juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha baru beberapa hari lalu mengungkap niatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat akun Twitter pribadi.

Sebenarnya Istana Presiden sudah memiliki akun resmi dengan nama @IstanaRakyat, namun Presiden yang akrab disapa dengan akronim SBY merasa perlu memiliki akun pribadi.

Pagi hari ini, Sabtu 13 April 2013, hal tersebut tampaknya telah terwujud. Akun bernama @SBYudhoyono muncul di Twitter. Pemiliknya disebutkan bernama "Susilo B. Yudhoyono".

Akun seperti @IstanaRakyat, akun @SBYudhoyono telah memperoleh badge verifikasi Twitter (verfied account) yang menunjukkan bahwa akun tersebut memang benar-benar kepunyaan Presiden SBY.

Akun ini, berdasarkan keterangan dari Julian, sehari-hari akan dikelola oleh sebuah tim. Namun, Presiden SBY bisa langsung melakukan Tweet sendiri juga dirasa ada informasi penting yang ingin disampaikan pada publik

Saat dikunjungi Kompas Tekno sekitar pukul 9 pagi tadi, akun @SBYudhoyono sudah mengumpulkan sekiatr 3.500 follower, tetapi akun ini belum menuliskan tweet apapun. Di akun juga tertera alamat situs presidenri.go.id.

Selain Presiden SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono juga sempat dikabarkan membuat akun pribadi di jejaring sosial photo sharing Instagram.
Sumber

Komentar gua sih:
1. Siap-siap di bully aja pak, Ups, bagi yang Bully denagn kata-kata kasar siap-siap aja deh dapat hukuman (baca ini)
2. Jangan Keasikan Ngetweet ya pak
3. Hati-hati dengan akun penipuan lainnya, yang punya SBY udah Verifikasi loh
Seperti ini:

Read more ...

Wednesday, April 10, 2013

Perbedaan Un 2012 dan UN 2013

Berikut Perbedaan Ujian Nasional tahun lalu dengan Ujian Nasional Tahun 2013 :

1. Naskah soal Ujian Nasional tahun lalu menggunakan kode dengan dua digit seperti 12, 45 dan lain sebagainya. Sedangkan Ujian Nasional tahun 2013 menggunakan teknologi barcode yang ada pada halaman depan soal dan Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN), sehingga secara kasat mata kita tidak bisa melihat kode soal tersebut. Peserta didik tidak perlu lagi menulis kode soal karena tidak akan sama dengan yang lain. Ini dilakukan semata-mata untuk mengindari terjadinya kecurangan, baik dilakukan oleh siswa, atau oknum-oknum tertentu.

2. Soal Ujian Nasional tahun lalu terdiri dari 5 paket soal yang berbeda dalam satu ruangan, sedangkan tahun sekarang terdiri dari 20 paket soal untuk setiap ruang ujian yang berisi 20 peserta. Meski demikian, jumlah variasi paket soal tiap provinsi sebanyak 30 buah. Soal untuk kelas A & kelas B bisa berbeda karena dibuat 30 paket soal. Ini dilakukan untuk menghindari saling contek antar siswa yang mengikut Ujian Nasional.

3. Naskah soal Ujian Nasional tahun lalu terpisah antara soal dengan Lembar Jawaban Ujian Nasional sedangkan Ujian Nasional tahun 2013 naskah soal dan Lembar Jawaban Ujian Nasional menyatu. Sebelum mengerjakan ujian, peserta didik diminta untuk memisahkan LJUN dari naskah soal. Jika lembar jawaban rusak akan diganti tidak hanya lembar jawabannya saja, tetapi berikut dengan naskah soalnya. Sebaliknya, kalau naskah soal rusak jangan hanya minta diganti naskah soal, harus meminta ganti naskah soal beserta LJUN. LJUN hanya boleh digunakan untuk mengerjakan naskah soal yang menjadi pasangannya. Karena merupakan satu paket dan ada kode yang saat dipindai (scan) akan ketahuan lembar LJUN mengacu soal yang mana.

Sumber
Read more ...

Bising? Bermanfaat Atau Tidak

Ramai, bising, hiruk pikuk, riuh rendah menandai kehidupan kebanyakan orang yang tinggal di kota. Tak hanya suara musik yang selalu menempel di telinga, melainkan juga suasana sekitar yang tak kunjung senyap selama 24 jam.

Meski banyak yang kurang nyaman, rupanya kebisingan bisa memengaruhi seseorang terutama dalam hal kreativitas. Benarkah? Berikut jawabannya yang dikutip dari Healthy, Selasa (9/4/2013).

Pengaruh kebisingan

Seperti diketahui, tingkat kebisingan yang berlebihan bisa merusak pendengaran. Tapi, ada banyak bukti yang menunjukkan implikasi ke kesehatan lainnya, seperti peningkatan risiko sakit jantung hingga tekanan darah tinggi.

Sebuah studi 2012 yang diterbitkan dalam jurnal Plos One, menemukan bahwa peningkatan 10 desibel (satuan yang digunakan untuk mengukur intensitas suara atau tingkat kekuatan sinyal listrik ) dalam paparan kebisingan lalu lintas berkaitan dengan 10 persen risiko lebih besar terkena serangan jantung.

Itu didukung temuan sebelumnya oleh World Health Organization (WHO) bahwa paparan suara lalu lintas dalam jangka panjang bisa menyebabkan tiga persen kematian akibat penyakit jantung iskemik (berkaitan dengan penyempitan pembuluh darah) di Eropa.

Selain itu, studi 2009 di Swedia menemukan bahwa orang-orang yang tinggal di lingkungan berisik, seperti dekat jalan raya, berisiko lebih besar terkena darah tinggi.

Kebisingan yang layak

Kebisingan memiliki hubungan dengan kreativitas seseorang. Setiap orang pasti mencari tempat yang tenang untuk memikirkan ujian sekolah serta bagaimana mengerjakannya.

Namun, penelitian terbaru dari Journal Of Consumer Research menemukan kalau kebisingan bisa membantu produktivitas. Para peneliti menemukan bahwa tingkat kebisingan yang layak (sekitar 70 desibel, tingkat rata-rata di kedai kopi) di subrainstorming.

Tapi, menaikkan tingkat kebisingan atau terlalu menurunkannya bisa membuat kinerja orang tersebut memburuk.

Ambil ketenangan

Seorang psikolog, Dr. Kate Sparks, mengatakan, "Mengambil waktu beberapa saat di hari-hari Anda yang sibuk itu penting."
Ketika sedang menunggu saat menjemput anak di sekolah atau baru pulang kerja, duduk dan konsentrasi pada tubuh. Bernapas dengan lembut dan perlahan.

Meski hidup di dunia yang penuh kebisingan, sesekali cobalah menjauh dari semua itu dan nikmati keheningan
atu lingkungan bermanfaat bagi orang-orang yang bekerja secara kreatif untuk mencari ide produk atau sebut saja ini terapi

Sumber
Read more ...

Sunday, April 7, 2013

Keanehan Kurikulum 2013

Aliansi Revolusi Pendidikan yang terdiri dari beberapa forum seperti Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), serta  Forum Guru Independen Indonesia (FGII) menyatakan penolakan atas Kurikulum 2013 yang diajukan Kementerian Pendidikan.

Aliansi ini menolak susunan draft Kurikulum 2013 karena dianggap tidak mengerti konteks Pendidikan sebagai alat untuk menciptakan manusia-manusia kreatif.

Retno Litsyarti, perwakilan dari  FSGI, menilai draft ini sudah melenceng dari keberadaan dunia  Pendidikan yang seharusnya mendidik murid. Dengan UU ini Pendidikan hanya bermodalkan kepada buku teks belaka.

Menurutnya ada beberapa hal yang dapat mereduksi kreativitas seperti adanya pengkajian teori matematika berdasarkan ketetapan bukan berdasarkan logika serta penerapan ilmu fisika yang menggunakan dalil - dalil agama di indonesia.

" Yang aneh adalah matematika berdasarkan ketetapan bukan logika, selain itu ilmu fisika berdasarkan dali-dalil agama, bagaimana mau mengkaji fenomena jika mengacu kepada agama? siapa yang bisa melawan dalil agama," katanya dengan nada bertanya di kantor KontraS, di Jakarta, (07/04/2013).

Ia juga menilai ada beberapa hal yang aneh seperti penghapusan beberapa mata pelajaran yang dihapuskan pemerintah, padahal pelajaran tersebut berguna untuk memancing kreativitas dan meningkatkan kualitas murid.

"Dalam draft ini tidak jelas mau dibawa kemana karena ada penghapusan beberapa mata pelajaran seperti bahasa inggris untuk SD, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi di jenjang SMP dan SMA, padahal mata pelajaran ini sangat berguna untuk tingkatkan kreatifitas dan kualitas murid," tambahnya.

Read more ...

Friday, April 5, 2013

Tak Perlu Minta Maaf Jika

Tak Perlu Minta Maaf Karena Anda:

  1. Tentang perasaan anda atau apa yang anda rasakan.
  2. Gaji anda lebih besar dari kekasih atau suami.
  3. Punya masa lalu, baik itu masa lalu baik atau buruk sekalipun.
  4. Membanggakan kecantikan dan keindahan diri anda.
  5. Mengungkapkan rasa kagum kepada pria lain.
  6. Memutuskan cinta dalam hubungan anda.
  7. Saat anda berani berkata jujur.
  8. Tidak bercukur.
  9. Terus bertanya untuk memahami, mendapat penjelasan, dan ketidaktahuan.
  10. Sudah lama sendiri atau  melajang.
  11. Meminta kenaikan gaji di tempat anda bekerja.
  12. Suka dengan kuliner dan masak memasak.
  13. Punya kemampuan, pandai dan cerdas.
  14. Punya kesukaan nonton tv untuk bersantai.
  15. Mobil anda terserempet atau kena tabrak.
  16. Anda merasa jengkel terhadap sesuatu.
  17. Pada saat saat tertentu anda malas dandan atau mandi.
  18. Saat anda meminta bantuan kepada orang lain.
  19. Tidak menyetujui pendapat atau ada yang tidak sejalan dengan keluarga.
  20. Memiliki barang koleksi favorit anda.
 Sumber
Read more ...

Thursday, March 14, 2013

Generasi Ciyus: Patut Di Tiru, Atau Jangan-Jangan....

“Ciyus?? Miapa?” yang terlontar dari bibir anak berusia 8 tahun.

Sebagai seorang calon pendidik, harusnya menjadi cerminan bagi anak didiknya. Namun, apa yang terjadi ketika orangtua yang seharusnya menjadi cerminan utama dan pertama bagi anak-anaknya malah berprilaku kurang peduli terhadap perkembangan perilaku anak. Hal ini patut menjadi acuan agar orangtua senantiasa mengawasi perilaku perkembangan anak, baik dalam segi tingkah laku maupun berbahasa.

Melihat fakta yang berkembang dalam masyarakat, banyak sekali bahasa-bahasa yang mengandung unsur singkatan yang berlebih-lebihan serta tidak ada kaitannya dengan EYD. Bahkan sekarang, anak SD lebih banyak menggunakan bahasa yang dianggapnya gaul dan mengikuti perkembangan jaman lebih modern daripada bahasa yang semestinya diucapkan oleh kebanyakan siswa SD.

“ih kepo banget deh ibu.” Woww keluar dari mulut seorang siswi anak kelas 5 didaerah tempat tinggal saya ketika saya melakukan observasi disalah satu SD favorit tersebut. Tersentak kaget dan miris. “kok bisa yah, anak kelas 5 yang harusnya sudah tau tata krama dan sopan serta santun ketika berkomunikasi dengan gurunya, malah berbalik mengucapkan kata-kata yang tak lazim diucapkan.”

Semestinya kita sebagai calon pendidik harus senantiasa memberikan contoh bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan teman sebaya ataupun dengan orang yang lebih dewasa dengan kita. Dalam hal ini, peran orangtua-pun sangat membantu, orang tua harus senantiasa mengamati perkembangan bahasa anak, lewat pergaulannya atau lewat media sosial yang digunakan/dilihat/didengarkan anak, tetapi mengamati dan mengawasi bukan berarti harus memproteksi diri anak terhadap perkembangan-perkembangan jaman yang cepat sekali berubah.
 
Read more ...

Wednesday, January 16, 2013

Seragam

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.

Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.

Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”

”Kenangan.”

”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”

Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.

Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.

”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.

”Tanggung,” jawabnya.

Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.

Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.

Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!

”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!

Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.

Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.

”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.

”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”

Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.

Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.

”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”

”Ulahnya?” Dia mengangguk.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

Read more ...

Monday, December 24, 2012

Wajib Ditiru: 5 Sifat Pensil Dalam Kehidupanmu

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat, "Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang Nenek pakai. Nenek harap kamu bisa meniru pensil ini ketika kamu besar nanti," ujar si nenek lagi.

Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya," ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."  Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

    "Pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya."


    "Kedua, dalam proses menulis, Nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita."

    "Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik."


    "Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar."


    "Keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah berhati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu."


    "Kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar, apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini, pasti akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah berhati-hati dan sadar terhadap semua tindakan."

Sumber
Read more ...

Thursday, December 20, 2012

Rindu Itu Seperti Luka, Menyakitkan

Indonesia...
Tanah Air beta..
pusaka abadi nan jaya
Indonesia
sejak dulu kala...
slalu dipuja-puja bangsa

di sana trmpat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung di hari tua...
sampai akhir menutup mata


Ballroom Park Hotel di Simon Bolivar Cd No 32 Yildiz, Ankara, siang itu menggigil oleh rindu seusai saya mengajak semua yang hadir di ruangan itu untuk bernyanyi bersama lagu "Indonesia Pusaka" karya Ismail Marzuki.

Rindu yang kelewat memang seperti luka, menyakitkan. Begitulah, setelah saya bernyanyi beberapa lagu di depan para mahasiswa Indonesia, para staf Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Turki, ditelikung oleh kerinduan yang amat sangat terhadap Indonesia, negeri yang melahirkan dan membesarkan mereka. Negeri yang mungkin telah mengecewakan lantaran dipimpin oleh orang-orang rakus. Negeri yang tak berwibawa lantaran dipimpin oleh orang-orang lemah dan tak berdaya saat dihina oleh negara tetangga. Namun demikian, Indonesia tetaplah tanah dan tumpah darah yang telah memberi warna dalam kehidupan mereka, bahkan membentuk kepribadian yang mengajarkan mereka bersopan-santun, menghargai orang lain, peka terhadap derita sesama, dan juga berjiwa seni.

Tapi rindu itu perlu. Sebab rindu, manusia jadi ingat akan kelemahannya, ingat keterbatasannya, bahwa ternyata manusia butuh orang lain, butuh mengenang asal-usulnya agar manusia mengerti mereka pernah kecil, lemah dan tak berdaya dan pernah dikuatkan oleh orang-orang yang mengasihinya.

Saya pun membawa rasa dan imajinasi yang hadir pada situasi transedental lewat lagu "Doa" yang saya bikin dari puisi "Doa" karya Chairil Anwar, penyair besar Indonesia angkatan '45.

"Tuhanku...
dalam termangu aku masih menyebut namamu, biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh
cahyamu...
panas suci...
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi..."

Ruangan sekejap jadi sunyi, sesunyi hati mereka yang terpisah lama dari sanak saudara dan tanah airnya. Saya tahu setelahnya bahwa di antara mereka ada yang menitikkan air matanya. Hmm... saya tak lama membiarkan suasana neglangut sedemikian rupa. Saya tak ingin membuat yang hadir sedih karena rindu yang berkepanjangan.

Usai lagu "Doa", saya gebrak ruangan ballroom Park Hotel dengan lagu cinta yang dinamis. Ya, lagu berbirama 3/4 berjudul "Setitik Noktah" yang saya bikin tahun 2003 itu langsung membuat hadirin tergoda untuk bertepuk tangan mengikuti beat yang saya tawarkan.

....
aku mengapung di telagamu
mendung pun gugurkan hujan
angin bertiup menuju tenggara
aku terjebak di gelisah matamu

aku tenggelam di samudramu
hujan pun menjelma sungai
sepotong bintang jatuh di hutan
aku tersesat di rahasia senyummu
mabuk aku oleh pesonamu

cintaku tak habis dimakan waktu...

saya ajak semua yang hadir untuk terus bertepuk tangan mengikuti beat lagu "Setitik Noktah". Makin cepat, kian cepat, dan bermuara dalam tepuk tangan yang meriah. Alhamdulillah... moga-moga nyanyian saya bisa menjadi oase bagi para "pengembara" yang malam itu kangen rumah dan sanak saudaranya di ribuan kilometer jauhnya dari tempat mereka bermukim kini.

Saya pun disalami oleh Dubes RI untuk Turki, Nahari Agustini dan suami yang siang tadi kami jumpai di kantornya. Suami istri itu mengucapkan terimakasih karena menurut mereka, saya telah memberi penawar rindu kepada warga Indonesia yang berada di Ankara.

Acara yang berlangsung sejak pukul 5 sore waktu setempat itu, adalah dalam rangka diseminasi konsep Rumah Budaya Indonesia di Turki oleh delegasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bidang Kebudayaan.

Sebelum acara tersebut berlangsung, tepat pukul 03.00 waktu Ankara, Dubes Nahari Agustini telah menerima kami di kantor KBRI Turki. Dia memaparkan, siap memfasilitasi kegiatan rombongan yang dipimpin oleh DR. Restu Gunawan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia itu.

Dubes Nahari pun menyambut niat rombongan dengan memberikan gambaran, betapa sekarang ini hubungan Indonesia dengan Turki sedang dalam kondisi yang sangat baik. Presiden Republik Turki Abdullah Gul sangat mengapresiasi setiap kegiatan Indonesia di forum Internasional. "Turki memiliki kemitraan strategis dengan Indonesia. Kemitraan itu disepekati saat kunjungan Presiden Turki ke Indonesia pada bulan April 2011. Dari segi ekonomi selalu meningkat dari tahun ke tahun, ditandatangani berbagai MoU di semua bidang, termasuk bidang pendidikan, budaya, pertukaran informasi, dan lain-lain.

Di bidang pendidikan, pemberian beasiswa Pemerintah Turki kepada mahasiswa Indonesia juga semakin meningkat, sekarang sudah mencapai 600 lebih mahasiswa Indonesia yang belajar di Turki," ungkap Dubes Nahari.

Selanjutnya, Nahari juga optimistis dengan rencana pengembangan RBI di Turki. Menurut Nahari, selain aset-aset yang dimiliki oleh KBRI berupa peralatan kesenian berupa gamelan, angklung, serta kemampuan menari tradisi dari mahasiswa Indonesia yang tergabung di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki; KBRI Turki juga memiliki sebidang tanah dan bangunan di Ankara yang bisa dipergunakan sebagai embrio RBI.

Berikitnya, Nahari pun menggambarkan, bahwa perdagangan Indonesia-Turki juga menunjukan tren yang menggembirakan. "Volume perdagangan antara Indonesia dan Turki meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia senantiasa surplus dalam perdagangan dengan Turki," kata Nahari,

Tahun 2003, volume perdagangan Indonesia-Turki hanya sekitar US$300 juta. Pada 2008, volume perdagangan kedua negara meningkat menjadi US$2,1 miliar.

Pada 2011 volume perdagangan Indonesia-Turki meningkat lagi menjadi US$2,24 miliar. "Tahun 2011, surplus yang diperoleh Indonesia mencapai US$1,9 miliar," ucap Nahari. Menurut Nahari, Indonesia dan Turki bersepakat meningkatkan volume perdagangan hingga US$5 miliar untuk lima tahun ke depan.

***

Dalam perkenalannya, DR. Restu Gunawan mengungkap, ada dua hal yang akan dijalankan oleh rombongan yang dipimpinnya. "Yang pertama, kami ingin menjajagi bagi berdirinya Rumah Budaya Indonesia (RBI) di Turki. Yang kedua, kami bermaksud mengkampanyekan penyelenggaraan World Culture in Development Forum (WCF) di Bali pada November 2013 kepada negara-negara sahabat, di antaranya Turki," papar Restu Gunawan.

Di akhir acara ramah tamah, Dubes Nahari juga berjanji akan segera mempertemukan rombongan misi kebudayaan Indonesia dengan para pejabat terkait setempat untuk memberi dukungan bagi terselenggaranya acara WCF tahun depan.

***

Acara di ballroom itu ditutup dengan ramah tamah dan acara santap malam. Saya pun mendapat informasi tambahan mengenai orang Turki. Beberapa kawan yang telah lama menetap di Ankara mengatakan, betapa Turki memang negara sekuler tulen.

Ini terlihat ketika bulan puasa tiba. Semua restoran penuh saat buka puasa. "Tapi ini rahasia kita berdua ya, saat mereka ngabuburit menunggu waktu buka puasa, di antara mereka juga ada yang sambil makan dan minum."

Waduh!

Sumber
Read more ...

Sunday, December 16, 2012

Manajemen Tukang Cukur

Pernah melihat tukang cukur? Bukan yang di salon atau barber shop tapi tukang cukur yang biasanya membuka jasanya dipinggir jalan. Miungkin sebagian cowok familiar ya dengan keberadaan tukang cukur pinggir jalan ini. Jujur saja, saya juga salah satu pengguna jasa ini dari SD sampai SMA. Saat kuliah sampai sekarang saya lebih sering ke salon. Hehehe..

No no no, i won’t talk about my experience of being cut by a barber. Saya tergerak bikin tulisan “Manajemen Tukang Cukur” setelah beberapa waktu lalu dosen saya bercerita tentang bagaimana mereka bekerja. Walaupun terkesan simpel but it realy does.

Yang pertama. Tukang cukur pinggir jalan menyapa langsung pelanggannya. Tidak ada resepsionis seperti di salon-salon yang menanyakan apa yang kita inginkan atau menyilakan kita duduk. Tukung cukur langsung menyilakan pelanggannya menunggu jika saat itu ada beberapa orang datang.

Kedua. Tukang cukur mengerjakan tugasnya sendiri memangkas rambut pelanggannya. Hampir tidak pernah dijumpai ada dua orang yang memangkas rambut seorang saja. Dia menanyakan sendiri mau model macam apa kemudian mengerjakan sendirian.

Ketiga. Setelah selesai mencukur rambut. Yang kita lakukan adalah membayar jasanya kan. Coba ingat-ingat siapa yang menerima uang kita? Tukang cukur itu lagi ya? Yang ngasih kembalian kalau uang kita lebih? Dia juga kan. Wah, fungsi kasir pun juga dilakukan oleh seorang tukang cukur pinggir jalan.

Keempat. Tempat cukur tentunya menjadi tempat yang cukup kotor karena rambut berserakan dimana-mana. Lagi-lagi di sini dia membersihkan ruangan kerjanya sendiri. Menyapu rambut hasil pangkasan untuk dibuang.

Dari empat  hal tadi kita bisa menarik kesimpulan bahwa seorang tukang cukur benar-benar bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak terbayang di era modern seperti sekarang ini masih ada hal-hal yang bisa dilakukan sendiri.

Nah inilah yang tidak bisa kita contoh dari seorang tukang cukur. Kita bisa saja mencontoh kegigihannya dalam bekerja namun dalam pekerjaanya tidak ada unsur organisasi yang memungkinkan orang lain untuk membantunya. Jika organisasi didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang mempunyai visi sama dan bekerja bersama-sama. Maka saat berorganisasi atau menjadi bagian dari sebuah organisasi, janganlah bekerja sendiri. Kemampuan team work akan lebih efketif dan efisien untuk menyelesaikan masalah-masalah .

Sumber:
Read more ...

Tuesday, December 11, 2012

Kurikulum 2013: Refleksi Mundur 10 Tahun Kebelakang

Beberapa hari belakangan ini dunia pendidikan ramai memperbincangkan akan perubahan Kurikulum Pendidikan dengan Kurikulum 2013. Mereka para pengambil keputusan dan para penyusun mengatakan bahwa perubahan kurikulum ini sangat diperlukan demi masa depan Indonesia yang dinilai tertinggal dibanding negara lain.
Beberapa perubahan dilakukan dan yang sangat mencolok adalah pengurangan jam pelajaran yang selama ini dinilai bahwa mata pelajaran di Indonesia dinilai terlalu banyak sehingga siswa tidak bisa fokus terhadap  materi. Namun dibalik itu pengurangan jam diikuti oleh penambahan waktu belajarnya.
Ada beberapa pelajaran yang mengalami perubahan jam baik ditingkat SD maupun tingkat menengah. Yang menjadi perhatian saya adalah perubahan jam pada pelajaran berikut:


1. Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama.

Baik untuk tingkat dasar maupun SMP tampak ada perubahan. Mungkin ini dialasankan dengan pendidikan KArakter yang mau ditonjolkan. Namun kesalahan yang terjadi adalah “Kenapa pemerintah lebih menonjolkan pendidikan Kewarganegaraan dibanding pendidikan Agama” Padahal karakter yang diharapkan itu akan lebih efektif jika didasari oleh nilai AGAMA bukan kewarganegaraan atau kebangsaan. Semestinya dibalik, jumlah pelajaran agama yang digandakan bukan Pendidikan kewarganegaraan.
Kalau ini yang terjadi maka nanti akan melahirkan generasi yang tambah jauh dari Agama dan memiliki nilai kewargrganegaraan yang tinggi. (saya tidak tahu apa arti nilainya nanti ……)
Apa arti sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa”
Bukankah yang diutamakan adalah nilai agama??? Nilai Ketuhanan ….
Bisa bisa nanti kita akan menjadi bangsa yang maju teknologi, kuat kewarganegaraannya tetapi minus agamanya. Apalagi nilai-nilai keagamaannya.
Didalam pendidikan agama, apapun agamanya pasti ada nilai nilai kenegaraan, cinta bangsa, cinta tanah air, bela negara dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kenegaraa.
Jadi sangat salah kalau yang digandakan itu adalah pendidikan kewarganegaraan”

2. Menghilangkan Mata Pelajaran TIK.
Ini bukan mengejar ketertinggalan kita tapi merupakan upaya memundurkan diri sepuluh tahun kebelakang.
Beberapa waktu lalu saya ikut pelatihan Pemanfaatan ICT utnuk Pembelajaran matematika yang dihadiri oleh 60 peserta dari seluruh Indonesia. Setelah saya perhatikan ternyata saya termasuk yang paling senior alias tertua (mungkin…) karena yang lain saya lihat masih muda-muda. Kok yang senior malah nggak lulus seleksi ya ???? Setelah saya pikir pikir ternyata saya termasuk salah satu yang beruntung dan ini saya sampaikan dalam obrolan santai dengan para peserta lain.
“Kalau angkatan saya jarang yang lulus itu karena kami tidak bisa ICT dan rasanya masih wajar karena di jaman kami kuliah dulu, kami belum punya komputer. Tapi kalau dijaman kalian sekarang ini, kalian tidak bisa komputer itu keterlaluan karena kalian semua sudah dibesarkan dijamannya komputer.”
Dan ini akan terulang lagi jika di kurikulum 2013 pelajaran TIK dihapuskan …..!

Masalahnya akan berbeda walaupun di cantumkan bahwa seluruh mata pelajaran harus berintegrasi dengan ICT. Jika ini yang dicanangkan maka yang bisa ICT adalah gurunya (itupun mungkin tapi bagi mereka yang sudah terlanjur tua untuk baru memulai belajar ICT ????)
Dan kalaupun ini bisa diatasi, yang jadi permasalahan adalah para peserta didik, mereka akan tetap buta ICT karena mereka hanya menjadi objek bukan sabjek dalam penggunaan ICT.
Akibatnya muncul lagi generasi baru angkatan 2015 yang gagap teknologi …
Mungkin bukan gagap lagi tapi bisa-bisa buta karena mengoperasikan microsoft office saja mungkin tidak bisa …
Jumlah jam pelajaran Pendidikan Agama dan PKn sejak dari tingkat SD sampai menengah itu harus di balik, artinya jam pelajaran Agama yang lebih besar daripada PKn

Bahasa inggris di SD bisa dipakai atau ditambahkan dan jangan dihilangkan, tinggal metode pengajarannya yang diganti dengan metode yang lebih ringan, anak samapi usia 7 tahun bisa mempelajari lima bahasa yang berbeda sekaligus tanpa akan memberikan beban kerja otak yang berlebihan pada si anak.
Catatan: Sang guru harus bisa bahasa Inggris lancar untuk bisa mengajar anak dengan cara praktek, jadi hinari pengajaran teori atau grammar dll, utamakan praktek. Bahasa adalah keterampilan bukan skill

TIK harus tetap dipertahankan sejak dini, pengenalan komputer bisa diberikan sejak SD dalam bentuk game game interaktif yang selanjutnya dilanjutkan dengan pengenalan bahasa-bahasa program sederhana seperti belajar mengetik cepat dst.
Kalau yang ini tidak dijalankan maka saya yakin tujuan yang akan dicapai jadi melenceng, bukannya perbaiakn yang dicapai tapi malah sebaliknya, AKAN TERLAHIR GENERASI BARU YANG JAUH DARI AGAMA, GAGAP TEKNOLOGI WALAUPUN RASA KEBANGSAANNYA TINGGI !!

Sumber
Read more ...
Designed By