Breaking News

News Update

Hiburan

Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Tuesday, April 16, 2013

Fakta Unik Seputar UN 2013

Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin memperkenalkan dulu istilah koplak kepada teman-teman, terutama kepada yang belum tahu. Saya sendiri baru mengenal kata koplak setelah bergabung dengan Kompasiana. Sebelumnya saya hanya sempat mendengar saja, tanpa pernah menggunakannya. .
Koplak ini berasal dari bahasa Jawa gaul untuk menyebut seseorang yang perilaku atau bicaranya cenderung ngawur tapi merasa benar, keren dan cerdas, padahal sebetulnya tidak. Kata koplak juga dapat digunakan untuk menggambarkan sebuah situasi yang lucu tapi tak pantas untuk ditertawakan. Misalnya kelucuan akibat kebodohan seseorang, kelucuan yang menyebabkan kemalangan, kelucuan yang mengenaskan, dsb. Biarpun situasinya lucu banget, tetap saja tak pantas untuk ditertawakan,  karena nggak sopan itu namanya.

Kembali ke UN. Pelaksanaan Ujian Nasional untuk siswa SMA sudah menyelesaikan hari kedua. Baru berjalan dua hari, sudah banyak kejadian lucu yang mewarnai pelaksanaan Ujian yang membuat anak SMA se Indonesia jadi senewen ini.  Baik kelucuan yang terjadi di seluruh Indonesia maupun yang terjadi di sekitar tempat saya mengawas. Mau tahu dimana letak koplaknya ? Mari ikuti saya…

1. Orang Tua yang Galau
Saking cemasnya melihat anak-anak kesayangannya pada stress menghadapi UN, beberapa orang tua di Malang- Jawa Timur sampai membawa anaknya ke tempat praktek Eyang paranormal alias orang pintar. Anak beranak ini lantas meminta Eyang untuk mendoakan Pensil 2B yang akan dipakai menjawab soal UN, dengan tujuan agar si anak diberi kelancaran dan kemudahan. Yang jadi masalah, kenapa pensilnya yang didoakan ? kenapa tidak anaknya saja yang didoakan ? biarpun itu pensil didoakan sampai mabok sekalipun, kalau anaknya nggak belajar, ya mana bisa dia menjawab soal-soal UN dengan benar? atau mungkin maksudnya, agar ketika si anak terpaksa “menembak” jawaban UN, tembakannya itu tepat sasaran berkat tuah dari si pensil sakti yang sudah disembur dengan dengan doa-doa itu.  ya,ya, ya, dapat dimengerti.

2. Guru yang mengungkapkan kerendahan hatinya dengan cara yang terlalu rendah
Di sebuah SMA di Sukabumi. Mungkin karena UN kali ini cukup sukar untuk dicurangi, seorang Guru yang biasa menolong siswanya dengan jalan gelap yakni dengan jalan  menjadi anggota tim sukses UN yang terkenal curang itu,  beberapa hari menjelang UN seorang Guru sampai merasa harus meminta maaf di depan kelas karena suatu alasan. Dia meminta maaf pada murid-muridnya karena selama ini tidak maksimal dalam mengajar sebab terlalu sering meninggalkan kelas. ” Bapak minta maaf ya, kali ini tidak bisa menolong kalian. Kalian harus belajar sendiri, lebih rajin dan lebih giat lagi “. Mendengar itu anak-anak cuma melongo,”oooh, jadi kita harus belajar sendiri lagi yak ? Laahh itu Bapak mau kemana ? “.. (ampun dah ). Nah ini adalah contoh guru yang punya prinsip ” jangan sampai tugas mengajar mengganggu hobi mancing “.

3. Humas sekolah yang terlampau pendiam
Di sebuah daerah di kabupaten Tabanan – Bali. Sejak pagi murid-murid kelas XII sudah berdatangan ke sekolah dengan persiapan fisik dan mental yang prima. Siap tempur untuk membabat habis soal-soal UN di hari pertama. Tapi apa lacur,  musuh yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Soal UN tak datang juga ke tempat ujian dilaksanakan. Usut punya usut, ternyata UN di sekolah itu dan di sekolah-sekolah yang ada di 11 provinsi lain di Indonesia, diundurkan pelaksanaannya, entah sampai kapan,mungkin sampai hari kiamat tiba nanti. Sementara pihak sekolah tidak mengumumkan pengunduran ini kepada murid-muridnya.
Murid-murid langsung pada bengong, takjub, heran, terkejut, semua perasaan bercampur aduk di dalam dada. Antara senang, mangkel, kesal, bersyukur, dan entah apa lagi. Akhirnya, pahlawan abege kita yang gagah berani itupun terpaksa menyarungkan kembali pensil 2B nya, dan kembali dari medan laga  dengan membawa perasaan gondok bukan main. Gondok itu bagi murid yang bener. Kalau murid yang koplak tentu lain lagi kelakukannya. Mereka justru  jingkrak-jingkrak  girang banget, sambil teriak-teriak  ” horeee ..! aseeek !  UN gak jadiii, UN gak jadiii … asseek …♫ ♪♬“

4. Anak-anak dengan manajemen stress yang tinggi.

Sudah umum terjadi setiap kali masa UN tiba. Seisi rumah jadi mendadak pada ribet, terutama para ibu. Dari pagi buta ibu-ibu ribet mempersiapkan sarapan bernutrisi tinggi agar anaknya tidak merasa lemas dan memiliki energi yang cukup untuk menjawab soal UN. Juga agar otak sang anak bertambah cerdas sehingga tidak salah dalam menjawab soal UN. Hari- hari sebelumnya ribet ngurus seragam, sepatu, belanja alat tulis UN, maksa-maksa ke salon agar anak merapikan rambutnya (apa hubungannya coba ?). Mematikan semua TV, melarang internetan, menyita HP. Tak cukup itu, seharian terus senam mulut, ngoceh tiada henti mengingatkan putra-puntrinya agar belajar dan berlatih soal. Pokoknya ribet dan stress banget deh para emak-emak ini. Lalu sebagai responsnya, si anak malah menasihati Bundanya begini, ” Sudahlah Ma, woles aja, kalem aja kalee. Cuma UN doang diributin …”. ( Hlahh ?!! )
 
5. Pengawas yang mengambil kapling orang lain
Untuk UN kali ini, kami para pengawas diharuskan menandatangani pakta integritas. Semacam komitmen moral untuk mendukung kejujuran dan kelancaran penyelenggaraan UN sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan, kurang lebih seperti itulah. Ya tentu saja kami bersedia, karena pelaksanaan UN yang bersih dan jujur merupakan cita-cita kami para pendidik.
Untuk itu kami harus mengisi formulir pakta integritas yang berisi identitas kami, tempat kami bertugas, dll. Setelah itu menandatangani kolom tanda tangan pembuat perjanjian. Nah saking semangatnya, ada pengawas yang main hajar saja menandatangani setiap kolom tanda tangan, tak peduli kolom itu diperuntukkan bagi siapa. Pokoknya mencoretkan tanda tangan, beres.
Akibatnya panitia mencak-mencak. Lhaahh ! kenapa ditandatangani semua ? Ini kan kolom buat Pengawas Satuan Pendidikan ?!  Trus kalau semua sudah ditandatangani seperti ini, lalu pengawas harus nandatangan dimana ??!   (yee … meneketehe ..)
Nah itulah contoh guru/pengawas yang terlalu bersemangat tapi kurang terbiasa membaca. Ya begini ini lah akibatnya. Jadi kacau balau ! heu heu …
 
6. Peserta UN yang mengira soal Bahasa Indonesia adalah dongeng pengantar tidur.
UN hari pertama yang mengujikan Bahasa Indonesia baru berjalan setengah jam. Anak laki-laki gendut yang ada dua deret di depanku sudah terangguk-angguk mengantuk, lalu sedikit demi sedikit menggelosorkan tubuhnya duduk dalam posisi rebahan di meja, dan semenit kemudian, menghilang, alias tidur nyenyak.
Saya berjalan mendekatinya, membangunkan dengan menepuk pelan bahunya. Anak itu membuka matanya dengan malas, lalu duduk tegak dan ketika saya sudah duduk kembali ke kursi pengawas, anak itu sudah merem lagi sambil menopang dagunya. Haduh ini bocah. Tak mau kalah, saya bangunkan lagi anak itu, kali ini sambil menyuruh dia ke kamar mandi untuk mencuci mukanya supaya segar.  Ada-ada saja. Apa dia pikir soal Bahasa Indonesia itu dongeng HC Andersen apa ? Sembarangan banget …

7. Pemerintah yang …. yaa gitu deh !
Mau tahu sumber segala kekoplakan penyelenggaraan UN tahun ini ? gampang i
tu mah. Siapa lagi kalau bukan yang punya hajat UN alias pemerintah ? dimana letak kekoplakannya ? wuah, bejibun deh, dari mulai distribusi soal yang terlambat, penundaan pelaksanaan UN di 11 provinsi, kualitas LJUN yang rendah, keharusan mencantumkan no HP pengawas (yakin itu no HP asli ? bukan no HP tetangga atawa no HP selingkuhan ? ), kejanggalan dalam pencetakan soal UN, dll yang sudah banyak dibahas di berbagai artikel tentang UN di Kompasiana ini. Cape mikirinnya. Perasaan kita sudah sejak kapan tau teriak-teriak sampai serak tentang amburadulnya pelaksanaan UN dan lebih jauh lagi tentang penghapusan UN, tapi kelihatannya nggak ngaruh tuh. Pemerintah cuek bebek aja. UN tetap dilaksanakan meski tertatih-tatih. Ya sutralah, kita jaga saja  anak-anak dan murid- murid  kita agar mereka tak jadi korban sistem.

Sumber:

Read more ...

Wednesday, April 10, 2013

Perbedaan Un 2012 dan UN 2013

Berikut Perbedaan Ujian Nasional tahun lalu dengan Ujian Nasional Tahun 2013 :

1. Naskah soal Ujian Nasional tahun lalu menggunakan kode dengan dua digit seperti 12, 45 dan lain sebagainya. Sedangkan Ujian Nasional tahun 2013 menggunakan teknologi barcode yang ada pada halaman depan soal dan Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN), sehingga secara kasat mata kita tidak bisa melihat kode soal tersebut. Peserta didik tidak perlu lagi menulis kode soal karena tidak akan sama dengan yang lain. Ini dilakukan semata-mata untuk mengindari terjadinya kecurangan, baik dilakukan oleh siswa, atau oknum-oknum tertentu.

2. Soal Ujian Nasional tahun lalu terdiri dari 5 paket soal yang berbeda dalam satu ruangan, sedangkan tahun sekarang terdiri dari 20 paket soal untuk setiap ruang ujian yang berisi 20 peserta. Meski demikian, jumlah variasi paket soal tiap provinsi sebanyak 30 buah. Soal untuk kelas A & kelas B bisa berbeda karena dibuat 30 paket soal. Ini dilakukan untuk menghindari saling contek antar siswa yang mengikut Ujian Nasional.

3. Naskah soal Ujian Nasional tahun lalu terpisah antara soal dengan Lembar Jawaban Ujian Nasional sedangkan Ujian Nasional tahun 2013 naskah soal dan Lembar Jawaban Ujian Nasional menyatu. Sebelum mengerjakan ujian, peserta didik diminta untuk memisahkan LJUN dari naskah soal. Jika lembar jawaban rusak akan diganti tidak hanya lembar jawabannya saja, tetapi berikut dengan naskah soalnya. Sebaliknya, kalau naskah soal rusak jangan hanya minta diganti naskah soal, harus meminta ganti naskah soal beserta LJUN. LJUN hanya boleh digunakan untuk mengerjakan naskah soal yang menjadi pasangannya. Karena merupakan satu paket dan ada kode yang saat dipindai (scan) akan ketahuan lembar LJUN mengacu soal yang mana.

Sumber
Read more ...

Sunday, April 7, 2013

Keanehan Kurikulum 2013

Aliansi Revolusi Pendidikan yang terdiri dari beberapa forum seperti Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), serta  Forum Guru Independen Indonesia (FGII) menyatakan penolakan atas Kurikulum 2013 yang diajukan Kementerian Pendidikan.

Aliansi ini menolak susunan draft Kurikulum 2013 karena dianggap tidak mengerti konteks Pendidikan sebagai alat untuk menciptakan manusia-manusia kreatif.

Retno Litsyarti, perwakilan dari  FSGI, menilai draft ini sudah melenceng dari keberadaan dunia  Pendidikan yang seharusnya mendidik murid. Dengan UU ini Pendidikan hanya bermodalkan kepada buku teks belaka.

Menurutnya ada beberapa hal yang dapat mereduksi kreativitas seperti adanya pengkajian teori matematika berdasarkan ketetapan bukan berdasarkan logika serta penerapan ilmu fisika yang menggunakan dalil - dalil agama di indonesia.

" Yang aneh adalah matematika berdasarkan ketetapan bukan logika, selain itu ilmu fisika berdasarkan dali-dalil agama, bagaimana mau mengkaji fenomena jika mengacu kepada agama? siapa yang bisa melawan dalil agama," katanya dengan nada bertanya di kantor KontraS, di Jakarta, (07/04/2013).

Ia juga menilai ada beberapa hal yang aneh seperti penghapusan beberapa mata pelajaran yang dihapuskan pemerintah, padahal pelajaran tersebut berguna untuk memancing kreativitas dan meningkatkan kualitas murid.

"Dalam draft ini tidak jelas mau dibawa kemana karena ada penghapusan beberapa mata pelajaran seperti bahasa inggris untuk SD, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi di jenjang SMP dan SMA, padahal mata pelajaran ini sangat berguna untuk tingkatkan kreatifitas dan kualitas murid," tambahnya.

Read more ...

Thursday, March 14, 2013

Generasi Ciyus: Patut Di Tiru, Atau Jangan-Jangan....

“Ciyus?? Miapa?” yang terlontar dari bibir anak berusia 8 tahun.

Sebagai seorang calon pendidik, harusnya menjadi cerminan bagi anak didiknya. Namun, apa yang terjadi ketika orangtua yang seharusnya menjadi cerminan utama dan pertama bagi anak-anaknya malah berprilaku kurang peduli terhadap perkembangan perilaku anak. Hal ini patut menjadi acuan agar orangtua senantiasa mengawasi perilaku perkembangan anak, baik dalam segi tingkah laku maupun berbahasa.

Melihat fakta yang berkembang dalam masyarakat, banyak sekali bahasa-bahasa yang mengandung unsur singkatan yang berlebih-lebihan serta tidak ada kaitannya dengan EYD. Bahkan sekarang, anak SD lebih banyak menggunakan bahasa yang dianggapnya gaul dan mengikuti perkembangan jaman lebih modern daripada bahasa yang semestinya diucapkan oleh kebanyakan siswa SD.

“ih kepo banget deh ibu.” Woww keluar dari mulut seorang siswi anak kelas 5 didaerah tempat tinggal saya ketika saya melakukan observasi disalah satu SD favorit tersebut. Tersentak kaget dan miris. “kok bisa yah, anak kelas 5 yang harusnya sudah tau tata krama dan sopan serta santun ketika berkomunikasi dengan gurunya, malah berbalik mengucapkan kata-kata yang tak lazim diucapkan.”

Semestinya kita sebagai calon pendidik harus senantiasa memberikan contoh bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan teman sebaya ataupun dengan orang yang lebih dewasa dengan kita. Dalam hal ini, peran orangtua-pun sangat membantu, orang tua harus senantiasa mengamati perkembangan bahasa anak, lewat pergaulannya atau lewat media sosial yang digunakan/dilihat/didengarkan anak, tetapi mengamati dan mengawasi bukan berarti harus memproteksi diri anak terhadap perkembangan-perkembangan jaman yang cepat sekali berubah.
 
Read more ...

Tuesday, December 11, 2012

Kurikulum 2013: Refleksi Mundur 10 Tahun Kebelakang

Beberapa hari belakangan ini dunia pendidikan ramai memperbincangkan akan perubahan Kurikulum Pendidikan dengan Kurikulum 2013. Mereka para pengambil keputusan dan para penyusun mengatakan bahwa perubahan kurikulum ini sangat diperlukan demi masa depan Indonesia yang dinilai tertinggal dibanding negara lain.
Beberapa perubahan dilakukan dan yang sangat mencolok adalah pengurangan jam pelajaran yang selama ini dinilai bahwa mata pelajaran di Indonesia dinilai terlalu banyak sehingga siswa tidak bisa fokus terhadap  materi. Namun dibalik itu pengurangan jam diikuti oleh penambahan waktu belajarnya.
Ada beberapa pelajaran yang mengalami perubahan jam baik ditingkat SD maupun tingkat menengah. Yang menjadi perhatian saya adalah perubahan jam pada pelajaran berikut:


1. Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama.

Baik untuk tingkat dasar maupun SMP tampak ada perubahan. Mungkin ini dialasankan dengan pendidikan KArakter yang mau ditonjolkan. Namun kesalahan yang terjadi adalah “Kenapa pemerintah lebih menonjolkan pendidikan Kewarganegaraan dibanding pendidikan Agama” Padahal karakter yang diharapkan itu akan lebih efektif jika didasari oleh nilai AGAMA bukan kewarganegaraan atau kebangsaan. Semestinya dibalik, jumlah pelajaran agama yang digandakan bukan Pendidikan kewarganegaraan.
Kalau ini yang terjadi maka nanti akan melahirkan generasi yang tambah jauh dari Agama dan memiliki nilai kewargrganegaraan yang tinggi. (saya tidak tahu apa arti nilainya nanti ……)
Apa arti sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa”
Bukankah yang diutamakan adalah nilai agama??? Nilai Ketuhanan ….
Bisa bisa nanti kita akan menjadi bangsa yang maju teknologi, kuat kewarganegaraannya tetapi minus agamanya. Apalagi nilai-nilai keagamaannya.
Didalam pendidikan agama, apapun agamanya pasti ada nilai nilai kenegaraan, cinta bangsa, cinta tanah air, bela negara dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kenegaraa.
Jadi sangat salah kalau yang digandakan itu adalah pendidikan kewarganegaraan”

2. Menghilangkan Mata Pelajaran TIK.
Ini bukan mengejar ketertinggalan kita tapi merupakan upaya memundurkan diri sepuluh tahun kebelakang.
Beberapa waktu lalu saya ikut pelatihan Pemanfaatan ICT utnuk Pembelajaran matematika yang dihadiri oleh 60 peserta dari seluruh Indonesia. Setelah saya perhatikan ternyata saya termasuk yang paling senior alias tertua (mungkin…) karena yang lain saya lihat masih muda-muda. Kok yang senior malah nggak lulus seleksi ya ???? Setelah saya pikir pikir ternyata saya termasuk salah satu yang beruntung dan ini saya sampaikan dalam obrolan santai dengan para peserta lain.
“Kalau angkatan saya jarang yang lulus itu karena kami tidak bisa ICT dan rasanya masih wajar karena di jaman kami kuliah dulu, kami belum punya komputer. Tapi kalau dijaman kalian sekarang ini, kalian tidak bisa komputer itu keterlaluan karena kalian semua sudah dibesarkan dijamannya komputer.”
Dan ini akan terulang lagi jika di kurikulum 2013 pelajaran TIK dihapuskan …..!

Masalahnya akan berbeda walaupun di cantumkan bahwa seluruh mata pelajaran harus berintegrasi dengan ICT. Jika ini yang dicanangkan maka yang bisa ICT adalah gurunya (itupun mungkin tapi bagi mereka yang sudah terlanjur tua untuk baru memulai belajar ICT ????)
Dan kalaupun ini bisa diatasi, yang jadi permasalahan adalah para peserta didik, mereka akan tetap buta ICT karena mereka hanya menjadi objek bukan sabjek dalam penggunaan ICT.
Akibatnya muncul lagi generasi baru angkatan 2015 yang gagap teknologi …
Mungkin bukan gagap lagi tapi bisa-bisa buta karena mengoperasikan microsoft office saja mungkin tidak bisa …
Jumlah jam pelajaran Pendidikan Agama dan PKn sejak dari tingkat SD sampai menengah itu harus di balik, artinya jam pelajaran Agama yang lebih besar daripada PKn

Bahasa inggris di SD bisa dipakai atau ditambahkan dan jangan dihilangkan, tinggal metode pengajarannya yang diganti dengan metode yang lebih ringan, anak samapi usia 7 tahun bisa mempelajari lima bahasa yang berbeda sekaligus tanpa akan memberikan beban kerja otak yang berlebihan pada si anak.
Catatan: Sang guru harus bisa bahasa Inggris lancar untuk bisa mengajar anak dengan cara praktek, jadi hinari pengajaran teori atau grammar dll, utamakan praktek. Bahasa adalah keterampilan bukan skill

TIK harus tetap dipertahankan sejak dini, pengenalan komputer bisa diberikan sejak SD dalam bentuk game game interaktif yang selanjutnya dilanjutkan dengan pengenalan bahasa-bahasa program sederhana seperti belajar mengetik cepat dst.
Kalau yang ini tidak dijalankan maka saya yakin tujuan yang akan dicapai jadi melenceng, bukannya perbaiakn yang dicapai tapi malah sebaliknya, AKAN TERLAHIR GENERASI BARU YANG JAUH DARI AGAMA, GAGAP TEKNOLOGI WALAUPUN RASA KEBANGSAANNYA TINGGI !!

Sumber
Read more ...
Designed By