Breaking News

News Update

Hiburan

Showing posts with label Remaja. Show all posts
Showing posts with label Remaja. Show all posts

Sunday, May 12, 2013

MTsN Pangean Juarai Lomba Pidato Bahasa Inggris

Madrasyah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Pangean berhasil menjuarai lomba pidato Bahasa Inggris (English Speech) yang ditaja MAN Teluk Kuantan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2013, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Lomba pidato ini diikuti sebanyak 16 sekolah SLTP se-Kuansing. Tidak hanya juara pertama diraih MTsN Pangean atas nama Ledya Safitri, juara kedua juga diraih siswa dari MTsN Pangean atas nama Tri Padila Rahma Sari. Sedangkan juara ketiga diraih oleh Anisa Septia dari MTsN Sentajo Raya.

Kepala MTsN Pangean, Drs Nurlubis MM yang juga mantan duru MAN Teluk Kuantan menyampaikan kepada  wartawan, Jumat (10/5) kemarin, mengucapkan selamat kepada siswanya yang telah berhasil mengangkat nama baik sekolah ini di tingkat kabupaten. Diakuinya, MTsN Pangean pada tahun lalu juga berhasil meraih juara pertama tingkat Provinsi Riau, pada lomba yang sama, atas nama Neli Azmi.

“Keberhasilan ini merupakan berkat dukungan dari semua pihak, terutama bimbingan dan arahan dari guru-guru mata pelajaran dan segenap majelis guru di sekolah ini. Kedepan, kita akan terus menjalin kerjasama dengan MAN Teluk Kuantan untuk program pembelajaran Bahasa Inggris ini,” ujar Nurlubis.

Diakui Nurlubis, bahwa memang untuk memperdalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab bagusnya di MAN Teluk Kuantan. Apalagi menurutnya, MAN Teluk Kuantan itu telah sukses melaksanakan program pembelajaran Bahasa Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. Program ini membuat siswa/ siswi sangat mahir dalam berbahasa Inggris dan bahasa Arab.

Sebelumnya, Kepala MAN Teluk Kuantan, Drs Zulkifli MPd mengucapkan selamat kepada sekolah yang telah meraih juara pada lomba ini. Ia berharap, bagi para pemenang hendaknya bisa memilih MAN Teluk Kuantan sebagai pilihan untuk memperdalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. “Karena di kita guru-gurunya sangat kompeten, ada yang berasal dari Australia dan ada juga dari Kanada,” katanya.
Read more ...

Friday, April 12, 2013

Salah Sendiri Kamu Memakai Rok Mini, Jangan Salahkan Kami Yang Melihatnya

Assalamuallaikum. Kita jumpa lagi friend, kali ini kita mau persembahkan tulisan ini khusus buat para cewek- cewek yang hobi banget pake pakaian minimalis alias semi telanjang. Jangan buru- buru sensi ya, hee... baca dulu ampe tuntas, oke.

Sebagai cewek normal, wajar dunk kalo kita suka banget dengan yang namanya pujian. Hal itu juga yang menginspirasi teman- teman kita buat tampil dengan gaya eksis ala mereka. Tujuannya balik lagi cuma satu tadi itu, pujian cantik dari siapapun yang melihatnya, dan atau jadi yang paling bintang diantara yang lain.

Alhasil, banyak dari mereka yang kemudian pada berlomba- lomba mempermak diri buat jadi yang tercantik. Dan dengan sedikit rayuan iklan fashion yang wara wiri di media, mereka pun bersedia bahkan dengan senang hati menjadi konsumennya. Walaupun dengan itu berarti mereka yang kudu menanggalkan rasa malu dan nggak sungkan- sungkan mempertontonkan aurat. Demi predikat cewek modern, apapun dijabanin dah!

Next, mereka mulai deh hang out di banyak tempat. Kebanyakan sih pada nongkrong bareng di mall. Dan bener aja, banyak mata yang melihat mereka dengan syahwat.  Ya gimana nggak, mereka pada pakai rok mini, hot pants, dan banyak lagi pakaian minimalis gitu. Tapi anehnya, cewek- cewek itu pada marah kalo di godain. Si cowok pada di damprat dengan bahasa kasar, dan dikatain nggak punya etika.
Hmmm... tapi gimana yach... nggak bermaksud belain yang cowok- cowok nich ye, heee... kenapa yach  buru- buru menyalahkan cowoknya, kalau mereka menggoda cewek yang suka pakai rok mini? bukankah memang sesuatu yang di jual itu untuk dibeli? ya kalau memang nggak suka pakai rok mini dan nggak mau di goda, ya pakai jilbab dan kerudungmu dong ah. So simple kan???  paling- paling, cowok- cowok akan bilang "assalamuallaikum", tuh di doain kan malah.

Selain upaya ngeles diatas, banyak yang protes juga, gimana negara ini mau maju kalau masalah rok aja masih dibahas"??? weitss jangan salah, girls!! justru karena rok yang bermasalah itulah, pikiran orang- orang yang nggak punya iman ikut bermasalah. Gimana nggak girls, yang namanya cowok mah semua juga manusia. Nah kalo kamu suguhin tontonan nggak jelas, ya jelaslah mereka jadi nggak jelas.

Udah banyak yang bisa kita lihat contohnya loh. Bill Clinton, salah satu presiden amerika itu, akhirnya nyaris dibuat tumbang dari kursi Kepresidenan, karena wanita muda bernama Monica Lewinsky. Selain itu Silvio Berlusconi, orang terkaya ketiga di Italy plus Perdana Menteri Italia, juga ikut tercoreng namanya setelah terlibat Affair dengan sejumlah  cewek model,artis-artis muda, presenter televisi, dll. Lain lagi cerita dari  Eliot Spitzer. Si Gubenur New York yang sangat pandai berpidato ini, mendengung-dengungkan akan menindak para pelaku korupsi, dan berjanji akan membangun reputasi yang baik serta menjaga kesucian keluarga, tapi ternyata sodara- sodara, karirnya selesai setelah terjegal skandal prostitusi. Dan masih banyak lagi contohnya, yang nggak mungkin disebutkan satu persatu.

MasyaAllah, ternyata tepat banget kan yang dipesankan oleh Rasulullah SAW, 14 abad lalu. Beliau, Rasul SAW bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita.” (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi girls, tampil modern and smart nggak harus pake acara nyaris telanjang kok. Malah dengan tampilan seronok gitu, justru kamu akan dinilai rendah oleh banyak mata jalang yang memandangmu. Dengan menghargai diri kita sendiri lewat pakaian yang sopan yaitu berjilbab dan berkerudung, juga bakal ngefek ke diri orang lain yang bakal ikut menghargai kita. Dan setelah itu kalau kamu benar- benar bersinar karena prestasi kamu, orang juga hanya akan fokus kesana, tanpa harus mereka menggoda kamu karena nafsu mereka.
Read more ...

Monday, March 11, 2013

Wahyudin, Pemulung Ganteng

Biasanya, kalau ada pemulung ganteng, pastinya hanya ada di sinetron-sinetron Indonesia yang terkadang suka ga nyambung antara penokohan dan peran. Di benak kita, seakan sudah tertanam bahwa yang namanya pemulung itu ya kotor, dekil, gak terawat, dan bisa dibilang memiliki tampang yang biasa-biasa saja. Tapi tentu saja, cakep atau tidaknya wajah seseorang itu sangat relatif. Masalah selera saja.

Tapi ternyata, pemulung ganteng itu benar ada. Fakta. Bukan hanya sekedar kisah sinetron besutan clan Punjabi. Namanya Wahyudin, biasa dipanggil Wahyu. Dia sendiri pun tidak pernah merasa dirinya ganteng, tapi memang banyak orang yang melihatnya akan bilang dia ganteng! Nah, karena profesinya yang tidak lazim buat cowok ganteng kayak dia, maka muncullah sebutan “si pemulung ganteng!

Mungkin karena kelangkaannya itu juga, [baca: pemulung ganteng], dua hari berturut-turut ini, sosok Wahyu hadir di televisi. Yang pertama muncul kemarin di Hitam Putih dan hari ini diundang di Show Imah, keduanya merupakan program favorit Trans 7.

Wahyudin memang seorang pemulung. Tapi ia juga seorang mahasiswa. Kecerdasan dan kepercayaan dirinya sangat jelas terlihat di setiap ia merespon pertanyaan yang diajukan host. Dengan banyak mimpi di hidupnya, ia mampu menjadi sosok yang berani, percaya diri dan tidak menyerah pada kehidupan. Memulung sejak usia SD, banyak sudah rasa, kisah dan pengalaman yang ia dapatkan. Benarkah Wahyu tidak pernah merasa malu atau minder dengan aktifitasnya itu? Tidak juga. Sempat satu waktu ia menitikkan air mata ketika melihat seorang pelajar yang diantar oleh mobil jemputan ke rumahnya, sementara ia sedang mengais-ngais sampah di tempat sampahnya. Merasakan nasib yang sangat jauh berbeda dengan anak tersebut.

Namun, tentu kesedihan itu tak pernah ia pupuk. Pada akhirnya ia bisa bersyukur dengan keadaannya saat ini dimana ia diberikan kesempatan untuk menjalani hidup yang keras dan menjadikannya sosok yang kuat, tegar dan percaya diri.
Keinginan belajarnya juga tak pernah putus. Bagaimana ia memiliki uang untuk kuliah? Sebenarnya ia tidak memilikinya, bahkan ia hanya bisa menargetkan untuk bisa kuliah tahun 2013 ini. Namun, siapa sangka justru di tahun inilah ia akan segera menyelesaikan kuliahnya. Hal itu berawal ketika ia tidak sekolah dan hanya beraktifitas memulung saja. Berasa jadi orang bodoh tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, akhirnya ia berniat untuk menyantuni anak anak yatim di sekitar komplek rumahnya.

Mulailah ia mendata semua anak yatim. Setelah berhasil mendapatkan datanya, ia pun mulai mencanangkan program santunannya. Ia meminta sang ibu yang berjualan gorengan, untuk memperbanyak stok jualannya. Gorengan yang biasanya dijual seharga 500 rupiah per potong, kini ia naikkan menjadi 750 rupiah, dengan alokasi dana 250 rupiah untuk disumbangkan ke anak yatim. Ternyata aksinya ini banyak mendapatkan orang-orang di sekitar kompleknya. Tak sedikit yang membeli 3 potong dan membayar 20 ribu rupiah tanpa dikembalikan sisanya.

Akhirnya, target 7 juta untuk santunan, rencana setiap anak yatim bisa mendapat 50 ribu rupiah, melonjak menjadi hampir 3 kali lipatnya! Ia pun menambahkan jumlah santunan per anaknya menjadi 100 ribu rupiah. Maka, niat yang tulus akan berbuah besar. Maksud hati ingin membantu anak yatim, ternyata memberikan berkah tidak hanya untuk anak yatim tersebut, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Ada pihak yang tertarik dengan sepak terjangnya dan menawarkan untuk membantu biaya kuliahnya. Bak mendapat durian runtuh, Wahyu pun segera mendaftar kuliah yang sudah tutup pendaftarannya. Ia pun memaksa petugas registrasi untuk memberikan kesempatan padanya dengan terus berucap bahwa ia seorang pemulung yang ingin kuliah.

Ternyata cita-cita Wahyu tidak hanya sampai disitu saja. Ia berniat melanjutkan kuliahnya ke jenjang S2 dengan konsentrasi di Pajak. Apa yang telah berhasil dilakukan oleh seorang pemulung seperti Wahyu ini tidak terlepas dari niat dan tekad yang kuat serta kerja  keras. Ia terbiasa mencatatkan apa yang ingin ia capai dan berapa dana yang dibutuhkan. Sehingga ia bisa menyisihkan sebagai uangnya untuk mencapai tujuannya tersebut.

Kebiasaannya ini berawal ketika ia berhasil membelikan ibunya sebuah televisi dari hasil tabungannya. Harga TV saat itu berkisar 1 juta rupiah. Maka ia butuh 3000 rupiah per harinya untuk bisa terkumpul uang sebanyak 1 juta itu selama kurun waktu 1 tahun. Tentu hal ini sangat membanggakan bagi seorang anak SMP saat itu, apalagi uangnya didapat dari kerja kerasnya memulung.

Tentu kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang semoga saja bisa mengikuti jejak langkah kesuksesan yang diperoleh oleh seorang pemulung seperti Wahyu. Pemulung ganteng yang juga bekerja sebagai penyiar radio muslim dan mengajarkan anak-anak berbahasa Inggris!

Sahabat muda, apa yang sudah bisa anda berikan kepada sesama?

Read more ...

Wednesday, January 16, 2013

Seragam

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.

Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.

Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”

”Kenangan.”

”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”

Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.

Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.

”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.

”Tanggung,” jawabnya.

Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.

Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.

Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!

”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!

Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.

Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.

”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.

”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”

Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.

Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.

”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”

”Ulahnya?” Dia mengangguk.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

Read more ...

Tuesday, January 15, 2013

Album MIKU (Minang Kuansing) Beredar

Sekian lama nggak pulkam, akhirnya tanggal 30 Desember 2012 berkesempatan juga untuk pulkam..
Hore,,, Lebay deh... dan yang nggak kuduga sama sekali baru nyampai langsung disuguhkan lagu kuansing yang bercorak minang. Yups... Kuansing emang nggak terlepas dari minang. Selain berbatasan langsung dengan propinsi Sumbar, banyak juga perantau-perantau minang yang ada di kabupaten Kuansing. Lagu tersebut terkumpul dalam album MIKU atau singkatan dari Minang Kuansing.

dalam album ini terdiri dari 8 hits lagu. yang membuat saya bangga, artis yang mengisi album ini juga ada dari desa saya tercinta Muaralembu, mereka adalah Dede ML dan Intan Pemata Sari,  satu lagi dari talukkuantan yaitu Eri Patopang. Lagu andalan dari album ini adalah Gadi Marando dan Baralek Sudah Rayo... Untuk judul lain silakan cek dibawah artikel ini.

Pengen download dan mengetahui lirik lagu tersebut, klik pada judul lagu dibawah ini
2. Gadi Marando vocal Eri Patopang
3. Kacang Lupo Kulik vocal Eri Patopang
4. Olun Punyo Anak vocal Eri Patopang Ft Intan Permata Sari
5. Mantimu Bungkuak vocal Dede ML
6. Gara-gara HP vocal Dede ML Ft Intan Permata Sari
7. Tukang Ojek vocal Dede ML Ft Eri Patopang
8. Rancak Mani vocal Eri Patopang Ft Intan Permata Sari.

Ingat: Silakan beli kaset yang aslinya demi kemajuan musik daerah kita
Dengan membeli CD,VCD,DVD dan KASET asli berarti anda telah menghargai para seniman musik negri ini dan taat pajak, apabila anda membeli bajakan berarti anda telah membantu mematikan kreativitas para seniman musik

Read more ...

Thursday, December 13, 2012

Cermin: Mana Pialaku?

Pagi ini basah, tetes hujan belum berhenti sejak subuh tadi. Hari bersejarah untuk anak-anak TK dimana hari ini adalah pembagian raport semester. Akan diketahui siapa saja peringkat 1, 2 dan 3 di kelas masing-masing termasuk juara 1 untuk ekstra drumband, bahasa inggris, iqro, tari, komputer. Tentu saja banyak piala yang dibagikan untuk anak-anak. Tapi jumlah piala yang banyak itu tentu tetap tidak sebanding dengan keseluruhan jumlah siswa di TK anakku ini.

Setelah pembagian…alhamdulillah malaikat kecilku termasuk salah satu diantaranya. Acara selesai, terakhir tiap orang tua sibuk dengan melihat, membaca hasil raport putra dan putrinya. Suasana makin riuh. Banyak anak-anak menangis karena tidak mendapatkan piala. Disaat seperti itulah kita melihat bagaimana kedewasaan orang tua untuk menjawab pertanyaan buah hatinya.

Mungkin sebagian berargumentasi, menjawab dengan baik. Tapi ada juga yang membuat miris. Masih banyak ibu-ibu yang tidak dewasa menyikapi ini. Merasa tersinggung karena anaknya tidak terpilih, tidak mendapat piala kemudian komplain kepada dewan guru. Tapi ada juga yang justru menghardik, mencaci buah hatinya, bahwa ia anak yang bodoh. Hanya anak-anak yang pintar yang dapat piala, yang tidak dapat berarti bodoh. Adduuuh…sedih aku melihatnya. Ada seorang nenek yang reaksinya lebih ketus lagi dari sekedar itu ia sampaikan kepada cucunya, sehingga sang cucu marah dan menendang-nendang neneknya. Menyedihkan ….! Aku tak tega melihat anak-anak itu menangis, terlebih sebagian mendapat perlakuan yang tidak sedap dipandang dan didengar. Maka ketika aku ingin mengabadikan gambar malaikat kecilku berjejer didepan bersama dengan yang lain, para orang tua juga bergerak maju untuk mengambil gambar buah hatinya…tapi, aku mengurungkan niatku. Aku hanya berdiri, tetap di posisi bangkuku sambil melambaikan tangan kepada putraku. Cukup, ia tersenyum.

Andai aku boleh usul, mungkin tak usah ada piala …

hm, tapi banyak teman-teman tidak setuju.

Entahlah ….

Cermin ini karya:
Lulu Vebryani Akbar
Publikasi on Kompasiana.com 13 Desember 2012
Read more ...
Designed By